KPF BALI 28/10/14 – Minyak WTI (West Texas Intermediate) turun untuk hari ketiga ditengah spekulasi persediaan minyak mentah naik mendekati level empat bulan tertingginya di AS, konsumen minyak terbesar. Minyak Brent tergelincir di London.

Minyak WTI berjangka turun sebanyak 0,7 persen di New York. Stok minyak mentah diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,8 juta barel menjadi 381.5 juta barel pekan lalu, sebuah survei Bloomberg News menunjukkan jelang rilis data pemerintah besok. OPEC tidak mungkin untuk mengurangi target produksi mereka ketika melakukan pertemuan pada bulan depan, kata Mohsen Qamsari, direktur untuk urusan internasional di National Iranian Oil Co, menurut kantor berita Kementerian Minyak.

WTI untuk pengiriman Desember turun sebanyak 55 sen ke level $80,45 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange dan berada di level $80,57 pada 10:10 pagi waktu Korea. Kontrak turun sebesar 1 persen ke level $81 kemarin. Volume semua berjangka yang diperdagangkan sekitar 46 persen di bawah level moving average 100-hari. Harga turun 18 persen tahun ini.

Minyak Brent untuk pengiriman Desember turun sebanyak 65 sen, atau sebesar 0,8 persen, ke level $85,18 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange. Minyak mentah acuan Eropa ditransaksikan lebih tinggi $4,71 dibandingkan minyak WTI. Pada penutupan kemarin selisih berada pada kisaran $4,83 kemarin, penyempitan untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir.

Minyak telah anjlok menuju fase bearish di tengah meningkatnya pasokan minyak global seiring anggota terkemuka dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak menolak panggilan untuk memotong produksi. AS memompa minyak di laju tercepat dalam hampir tiga dekade terakhir sementara output minyak Rusia telah naik mendekati rekor tertingginya pasca Soviet. (izr)

Source : Bloomberg