PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 23/11/2016 – Pasca menyentuh level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir akhir pekan lalu, kini harga emas mulai merangkak naik. Mengutip Bloomberg, pada pukul 15.53 WIB, Senin (22/11), harga emas kontrak pengiriman Desember 2016 di Commodity Exchange menguat 0,62% ke US$ 1.217,30 per ons troi.

Dibanding titik terendahnya pada 18 November 2016, si kuning menguat 0,71%.

Research & Analyst SoeGee Futures Alwi Assegaf menyebut, kenaikan ini wajar, karena emas sudah menyentuh level terendah dalam sembilan bulan. Tambah lagi, indeks dollar sedang terkoreksi.

Analis Finex Berjangka Nanang Wahyudin menambahkan, kenaikan ini juga terjadi berkat aksi bargain hunting pelaku pasar. Selain itu, dalam waktu dekat tidak ada data ekonomi AS yang dirilis.

“Jadi wajar saja sesaat ada momentum bagi emas untuk memperbaiki posisi,” jelas dia. Karena itu, Nanang menilai harga emas masih bisa naik dalam jangka pendek.

Apalagi, pada Kamis ini (24/11), pasar AS akan libur untuk merayakan thanksgiving. Tapi harga emas masih rentan terkoreksi. “Kenaikan suku bunga Amerika Serikat terus membayangi harga emas dan membuat emas berada dalam tren bearish,” papar Alwi, Selasa (22/11).

Selain kenaikan suku bunga The Fed, yield obligasi tenor 10 tahun di AS tercatat naik hingga 2,3%. Daya tarik emas dianggap masih kalah dengan tingginya bunga obligasi.

Permintaan naik

Jelang akhir tahun, Nanang menilai harga emas masih berpotensi turun, walau rentangnya terbatas. Meski dibayangi The Fed dan AS, permintaan emas bakal menahan kejatuhan harga.

Laporan Swiss Federal Customs Administration, ekspor emas Swiss Oktober 2016 melesat menjadi 162,6 ton dibanding bulan sebelumnya yang hanya 147,4 ton. Pengiriman ke India, Hongkong serta Inggris tercatat naik. Hanya saja pengiriman ke China masih turun menjadi 24,2 ton.

Laporan pembelian emas Rusia juga memberi angin segar pada harga emas, karena mencapai level tertingginya dalam 18 tahun terakhir akibat ambruknya nilai tukar rubel. Kepemilikan emas bank sentral Rusia hingga pertengahan November 2016 ini naik menjadi 50,9 juta ons troi.

Sampai akhir 2016, permintaan emas masih berpeluang naik. Tapi Nanang menghitung harga emas hanya akan bergerak di kisaran US$ 1.172-US$ 1.250 per ons troi. Ini senada dengan riset Goldman Sachs Inc yang menyebut harga emas di akhir tahun hanya US$ 1.200 per ons troi.

Alwi pun menganalisa harga emas akan tetap jatuh. Kalau akhirnya The Fed memutuskan menaikkan suku bunga secara bertahap, emas akan tergerus dan menyentuh level US$ 1.107 per on troi.

Sebaliknya jika diputuskan kenaikan suku bunga sekaligus maka emas akan rebound ke level US$ 1.205 per ons troi. Sedangkan jika kenaikan suku bunga ditunda harga emas akan melambung ke level US$ 1.300 per ons troi.

Secara teknikal, harga emas saat ini bergulir di bawah MA 50, MA100 dan MA200. Indikator MACD dan RSI berada di bawah 50, artinya tekanan jual masih tinggi. Kemudian stochastic menunjukkan adanya peluang rebound.

Alwi memperkirakan hari ini (23/11) harga emas akan mulai terkoreksi menjelang keluarnya rilis hasil rapat FOMC. Proyeksinya harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.206-US$ 1.232 per ons troi.

Sedangkan Nanang menebak harga emas akan bergerak di antara US$ 1.200-US$ 1.234 per ons troi dalam sepekan ke depan