PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 21/06/2018 – Di tengah isu perang dagang, optimisme atas perekonomian masih terjaga. Setidaknya hal itu tecermin dari beberapa emiten yang berencana merevisi targetnya pada tahun ini. Sasaran revisi pun bukan hanya kinerja keuangan, melainkan kinerja operasionalnya.

Dari sektor batubara, ada Bumi Resources (BUMI) yang mewacanakan menaikkan target produksi dari 80 juta ton batubara menjadi 90 juta ton pada tahun ini.

Kinerja Delta Dunia Makmur (DOID) bahkan sudah hampir dipastikan bakal melampaui target tahun ini. Sebab, emiten itu sudah memenuhi target kontak baru US$ 7 miliar. Kemungkinan, DOID masih menerima dua atau tiga kontrak lagi pada semester kedua nanti.

Emiten sektor batubara merevisi target, agaknya hal itu wajar. Sebab, kondisi pasarnya mendukung. Yang menarik, tak sedikit emiten sektor lain turut merevisi target.

Dari sektor telekomunikasi, ada Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Pelanggan IndiHome mencapai 4 juta pelanggan per awal Juni. Dengan pencapaian ini, manajemen optimistis bisa melebihi target semula 4,7 juta pelanggan menjadi sekitar 5 juta pelanggan pada akhir 2018.

Demikian pula Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Bank pelat merah ini berencana menaikkan target penyaluran kreditnya. Meski belum merinci lebih detail, BBRI memastikan akan mengerek target lantaran kredit sektor mikro, konsumer dan menengah sejauh ini tumbuh signifikan.

Pertumbuhan ekonomi memang belum sepenuhnya mencapai target 5,3%. Di kuartal I-2018, pertumbuhannya masih 5,06%. Tapi itu lebih tinggi dibandingkan tahun lalu di kisaran 4%. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga meningkat, yakni 125,1 pada Mei 2018. Angka ini meningkat dibandingkan April 2018 sebesar 122,2. “Jadi secara makro memang mendukung,”

Target emiten, menurut Alfred, berdasarkan data ekonomi saat ini. Hal itu memunculkan optimisme baru bagi emiten untuk menaikkan target.

Sejatinya hal tersebut mengindikasikan pertumbuhan ekonomi di semester kedua tahun ini bakal lebih baik. Sejumlah faktor juga mendukung ekspektasi tersebut. Salah satunya pembagian tunjangan hari raya (THR) dari pemerintah untuk para PNS dan pensiunan.

Pilkada serentak juga berlangsung tahun ini. Kontribusinya memang tak sebesar pemilu presiden. Toh, analis menilai kontribusinya tak bisa dikesampingkan. “Pilkada serentak mendorong konsumsi masyarakat,” tambah Alfred.

Dari sini, ia menilai sektor telekomunikasi masih menarik di semester kedua nanti. Juga sektor perbankan.

Analis Bahana Sekuritas Andri Ngaserin masih netral dengan sektor telekomunikasi. Tapi dia bullish dengan saham TLKM. Segmen bisnis fixed internetdiperkirakan menjadi penggerak kinerja TLKM ke depan.

Untuk saat ini, kontribusi segmen tersebut memang belum besar. “Tapi kontribusinya akan terwujud di 2020,” tulis Andri dalam risetnya.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan buy TLKM dengan target Rp 4.200 per saham. Harga TLKM kemarin Rp 3.710 per saham.

KONTAK PERKASA