PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 03/10/2017 – Harga minyak dunia ditutup merosot, Senin (2/10). Sinyal kenaikan produksi minyak global mendinginkan harga komoditas energi.

Mengutip CNBC, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November di Nymex-AS ditutup turun 2,1% menjadi US$ 50,58 per barel. Di perdagangan elektronik Asia, Selasa (3/10), harga minyak lanjut turun tipis ke US$ 50,52 sebarel.

Sementara, minyak mentah Brent sebagai patokan global, turun 1,5% ke level US$ 55,94 per barel pada pukul 02.19 dini hari. Padahal, pada kuartal ketiga lalu, minyak membukukan kenaikan terbesar sejak 2004.

Hasil survei Reuters menunjukkan, produksi minyak OPEC naik pada September lalu, dipimpin kenaikan produksi di Irak dan Libya. Ini memicu kekhawatiran kelebihan suplai di pasar global.

Apalagi, perusahaan pengeboran minyak di AS telah menambah rig untuk pertama kali setelah tujuh pekan. Jumat, Baker Hughes dari General Electric Co melaporkan jumlah rig yang beroperasi per 29 September sudah ditambah enam unit menjadi total 750 rig.

“Mereka menambahkan rig untuk pertama kalinya, sehingga juga dapat mengubah sentimen,” kata John Tjornehoj, Analis pasar energi di CHS Hedging seperti dilansir CNBC.

“Saya pikir ini akan menjadi perjuangan untuk Brent bergerak di atas US$ 60,” ujar Olivier Jakob, Analis minyak di Petromatrix.

Grafik teknikal menunjukkan minyak kehabisan tenaga usai reli. Jakob mengatakan, grafik mingguan Brent telah membentuk “shooting star”, sebuah pola yang mengindikasikan pasar telah mencapai puncak.

PT KONTAK PERKASA