PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 09/01/2020 –  Nilai tukar rupiah langsung melesat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (9/1/2020) hingga menyentuh level terkuat sejak Juni 2018.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, rupiah langsung menguat ke level Rp 13.850/US$. Penguatan tersebut menjadikan Sang Garuda sebagai mata uang terbaik Asia pagi ini.

Berikut pergerakan mata uang utama Asia pagi ini.

Mayoritas mata uang utama Asia memang menguat melawan dolar AS pada hari ini. Rupee India masih belum masuk perhitungan karena pasar negeri Bollywood belum dibuka, dan harga rupee tersebut masih level penutupan perdagangan Rabu.

Penguatan rupiah dan mata uang Asia lainnya dipicu melunaknya sikap Presiden AS, Donald Trump, merespon serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak.

Pada Rabu pagi waktu AS, Presiden Trump berpidato dan mengatakan Iran “sepertinya mundur” setelah melakukan serangan tersebut. Ia juga menyatakan akan mengenakan sanksi ekonomi ke Teheran. Hal tersebut mengindikasikan Presiden AS ke-45 ini tidak akan menggunakan kekuatan militer, yang membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik.

Presiden AS ke-45 ini juga mengatakan membuka peluang bernegosiasi dengan Iran. “Kita semua harus bekerja sama untuk mencapai kesepakatan dengan Iran yang membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman dan damai” kata Trump sebagaimana dilansir CNBC International.

Sikap Trump tersebut berbeda dengan sebelumnya yang mengancam akan menyerang Iran jika Pemerintah Teheran melakukan balass dendam atas tewasnya Jendral Qassim Soleimani lewat serangan pesawat tanpa awak di Bandara Baghdad. Jenderal Soleimani adalah sosok penting nomor dua di Iran dan dikenal sebagai tokoh revolusioner.

Melalui akun Twitternya pada Sabtu (4/1/2020) Trump memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan.

Seperti diketahui pada Rabu pagi kemarin, Iran menyerang pangkalan militer AS di Irak dengan belasan rudal. Serangan tersebut terjadi kurang dari 24 jam setelah Iran mengancam akan melakukan balas dendam ke AS.

Selasa lalu, Bloomberg yang mengutip Fars News Agency melaporkan Kepala Komite Pengamanan Nasional Iran Ali Shamkhani mengatakan Teheran sedang menyiapkan 13 skenario untuk membalas AS. Bahkan, ia mengatakan hal ini bisa menjadi “mimpi buruk bersejarah” bagi AS.

“Bahkan jika skenario terlemah kita disetujui, penerapannya bisa menjadi mimpi buruk bersejarah bagi Amerika,” katanya. “Keseluruhan pasukan perlawanan akan membalas.”

Namun yang terbaru, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mendinginkan suasana. Melalui akun Twitternya, ia mengatakan “Kami tidak ingin eskalasi atau perang, tapi kami akan membela diri terhadap agresi apapun”.

Pidato Trump serta pernyataan Zarif mengindikasikan kedua negara tidak akan melakukan serangan militer lagi, dan membuat sentimen pelaku pasar kembali membaik dan masuk ke aset berisko serta berimbal hasil tinggi, rupiah pun kembali perkasa.