PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 11/06/2020 – Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed masih dengan kebijakan (stance) dovish-nya alias sabar dan tidak berpikir menaikkan suku bunga untuk menyelamatkan perekonomian Negeri Paman Sam dari guncangan pandemi. Harga emas pun terbang dibuatnya.

Dini hari tadi komite pengambil kebijakan The Fed (FOMC) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan (Federal Funds Rate) di kisaran saat ini 0-0,25%. The Fed akan menahan suku bunga ini untuk waktu yang agak lama hingga 2022.

“Kami tidak berpikir untuk menaikkan suku bunga. Kami bahkan tidak berpikir untuk berpikir menaikkan suku bunga” kata ketua The Fed Jerome Powell, melansir CNBC International. “Apa yang kami pikirkan adalah bagaimana caranya untuk mendukung perekonomian. Kami pikir ini akan membutuhkan waktu” tambahnya.

Merespons pernyataan The Fed, harga emas dunia di pasar spot menguat 1,27% kemarin. Meski pada perdagangan pagi ini harga emas cenderung flat, tetapi logam mulia tersebut kini masih berada di rentang tertingginya dalam lebih dari 7 tahun terakhir. Kamis (11/6/2020) pada 07.30 WIB 1 troy ons emas dibanderol US$ 1.735,61 atau melemah 0,04% dibanding posisi penutupan kemarin.

 

The Fed tak hanya akan menahan suku bunga mendekati nol persen, bank sentral Negeri Adidaya tersebut juga akan tetap membeli aset-aset keuangan (QE) dengan nilai mencapai US$ 80 miliar untuk surat utang pemerintah dan US$ 40 miliar untuk efek beragun aset properti per bulannya.

Bersamaan dengan pengumuman suku bunga acuan tersebut The Fed juga memberikan proyeksi ekonomi Negeri Paman Sam ke depannya. The Fed memperkirakan perekonomian AS akan terkontraksi 6,5% tahun ini akibat hampir berhentinya roda ekonomi saat lockdown sebelum rebound di angka 5% tahun depan.

Tingkat pengangguran di AS diperkirakan akan berada di level 9,3% tahun ini dan akan turun 6,5% tahun depan hingga terus menurun ke tahun-tahun selanjutnya seiring dengan pemulihan ekonomi. The Fed juga melihat tingkat inflasi AS berada di angka 1% tahun ini.

Stance The Fed yang dovish memang memberikan ruang untuk emas menguat. Tingkat suku bunga yang rendah membuat biaya peluang memegang aset seperti emas menjadi lebih rendah mengingat bullion merupakan salah satu aset yang tidak memberi imbal hasil (non-yielding).

Di sisi lain stimulus jumbo yang diberikan bank sentral maupun pemerintahan secara global juga turut menjadi pendukung harga emas untuk menguat lantaran adanya ancaman inflasi yang nyata ke depannya. Emas sebagai aset lindung nilai (hedge) jadi kebanjiran permintaan ketika ada ancaman inflasi yang tinggi dan penurunan nilai tukar.

“Orang menggunakan emas sebagai aset safe-haven dan juga banyak yang percaya bahwa inflasi akan naik di kuartal mendatang,” kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago, melansir Reuters.

Bank investasi global Goldman Sachs menilai harga emas bisa tembus US$ 1.800/troy ons dalam periode 12 bulan dan tingkat inflasi yang tinggi bisa mendorong harga emas tembus di atas US$ 2.000/troy ons.  Smber : cnbcnews