PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 06/01/2019 – Mengawali perdagangan pekan ini, harga emas bergerak ke utara. Sentimen utama yang mendorong penguatan harga emas adalah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah terutama akibat serangan AS yang menewaskan jenderal karismatik pasukan elit Iran Qasim Soleimani.

Senin (6/1/2020), harga emas di pasar spot menyentuh level tertingginya dalam setahun terakhir. Pada 08.50 WIB, harga emas berada di US$ 1.576,62/troy ons meningkat 1,61% dibanding harga penutupan perdagangan pekan kemarin. Bahkan sejak perdagangan dibuka, harga emas sempat menyentuh level tertingginya di US$ 1.580/troy ons.

 

Harga emas mulai naik justru setelah Amerika Serikat (AS) dan China sepakati perjanjian dagang fase satu setelah terlibat kisruh dalam 18 bulan terakhir. Harga emas semakin menguat setelah minggu lalu, serangan yang diluncurkan oleh AS ke Baghdad menewaskan pimpinan militer tertinggi Iran, Qasem Soleimani.

Mengutip CNBC Internasional, Jenderal Qasem Soleimani selaku pemimpin dari Quds Force yaitu pasukan khusus yang dimiliki oleh Revolutionary Guard (pasukan bersenjata Iran) dikabarkan tewas dalam serangan udara yang diluncurkan AS di Baghdad.

Tak hanya Soleimani saja yang tewas, wakil komandan dari Popular Mobilization Forces (PMF), sebuah kelompok milisi yang dibekingi Iran, Abu Mahdi al-Muhandis juga dikabarkan tewas dalam serangan yang diluncurkan di dekat Bandara Internasional Baghdad tersebut.

Tak beberapa lama kemudian, Pentagon mengonfirmasi tewasnya Qasem Soleimani. Dalam keterangan tersebut Pentagon menerangkan Soleimani tewas melalui sebuah serangan udara menggunakan drone atas arahan Presiden AS Donald Trump.

“Atas arahan Presiden, militer AS telah mengambil tindakan defensif yang diperlukan untuk melindungi personil AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani,” tulis Pentagon dalam keterangan resminya.”Jenderal Soleimani secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang para diplomat dan personel militer AS di Irak dan seluruh kawasan regional,” jelas Pentagon.

Trump memperingatkan Iran untuk tidak melakukan serangan balasan. Jika Iran nekat untuk menyerang balik, Trump tak segan-segan untuk menyerang sebanyak 52 target sebagai balasan.

Namun tentu Iran tak tinggal diam. Dalam sebuah pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, mengutuk apa yang dilakukan AS tersebut. Menlu Iran tersebut bahkan tak gentar untuk menyatakan serangan balasan.

“AS bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan jahatnya,” tegasnya melalui akun Twitter sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (3/1/2019).

Bahkan kabar teranyar, Iran juga merespon ancaman Trump tersebut dengan melabeli Trump sebagai teroris.

“Seperti ISIS, seperti Hitler, seperti Jenghis!,” tulis Menteri Informasi dan Telekomunikasi Mohammad Javad Azari-Jahromi dalam akun Twitternya, Minggu (6/1/2020).

” … Trump adalah teroris dalam balutan jas. Dia akan segera belajar sejarah bahwa TIDAK ADA yang bisa mengalahkan ‘Bangsa & Budaya Iran’.

Awal tahun, kondisi global kembali diwarnai dengan ancaman perang. Setelah perang dagang mereda kini, ancaman konfrontasi antara AS dan Timur Tengah membuat harga emas kembali melesat dan mencetak rekor tertinggi dalam setahun.

Smber : cnbcnews