PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 17/03/2020 – Nilai tukar rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (17/3/2020) hingga menembus Rp 15.000/US$. Aksi jual yang terus terjadi di pasar finansial global membuat arus modal keluar dari negara-negara emerging market termasuk Indonesia, dampaknya rupiah terus mengalami tekanan.

Begitu perdagangan dibuka rupiah langsung melemah 0,2% ke Rp 14.930/US$. Tetakan untuk rupiah tidak sampai di situ, depresiasi terus berlanjut hingga menembus Rp 15.000/US$. Pada pukul 13:00 WIB, rupiah berada di level Rp 15.055/US$, anjlok 1,04% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terlemah sejak November 2018.

Pandemi virus corona (COVID-19) yang semakin meluas di luar China memicu aksi jual masif di pasar keuangan global, bahkan bursa saham AS (Wall Street) karam pada perdagangan Senin kemarin, ketiga indeks utama ambles belasan persen, dan membukukan penurunan harian terburuk sejak “Black Monday” tahun 1987.

 

Emas yang merupakan aset yang menyandang status safe haven juga ambrol lebih dari 5% hingga menyentuh level terlemah sejak November 2019 Senin kemarin.

Jika Wall Street saja mengalami aksi jual, begitu juga dengan aset safe haven, apalagi pasar keuangan negara-negara emerging market seperti Indonesia.

Senin kemarin, Indeks Harga saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 4% dengan investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar reguler sebesar Rp 457,75 miliar. Sementara di perdagangan sesi I hari ini, IHSG ambles lebih dari 4%, ke level terlemah sejak Januari 2016. Berdasarkan data RTI, nilai transaksi di perdagangan sesi I sebesar Rp 3,35 triliun, dengan investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 590.77 miliar di pasar reguler.

Sementara di pasar obligasi, yield tenor 10 tahun naik 17,9 basis poin menjadi 7,499% dibandingkan Senin kemarin, dan merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2019.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun. Saat harga sedang turun, itu artinya sedang terjadi aksi jual di pasar obligasi.

Aksi jual di pasar saham dan obligasi tersebut mengindikasikan adanya capital outflow yang terjadi terus menerus, dan rupiah akhirnya jeblok.

Tekanan bagi rupiah masih belum akan berakhir akibat pandemi COVID-19 yang diprediksi akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.

Kasus COVID-19 di Indonesia sejauh ini dilaporkan sebanyak 134 kasus, dengan 5 orang meninggal dunia dan 8 orang dinyatakan sembuh. Namun, angka tersebut tentunya masih berisiko bertambah, mengingat wabah tersebut baru masuk ke Indonesia sejak awal bulan ini.

Badan Intelejen Negara (BIN) memprediksi puncak penyebaran virus corona akan terjadi pada Mei 2020. Prediksi ini didapatkan dari setelah pemerintah membuat model terkait penyebaran virus corona.

“Jadi, kalau kita hitung-hitung, masa puncak itu mungkin jatuhnya di bulan Mei, berdasarkan permodelan ini. Bulan puasa,” ujar Deputi V BIN Afini Boer, dikutip dari detikcom.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan pandemic tersebut baru akan bisa dikendalikan pada bulan Juli atau Agustus, dan ia juga mempertimbangkan mengambil kebijakan lockdown, meski tidak semua negara. Trump juga mengatakan perekonomian AS kini menuju resesi akibat pandemi COVID-19.

Banyak negara-negara kini mengambil kebijakan lockdown guna meredam penyebaran COVID-19. Akibatnya, aktivitas ekonomi diprediksi melambat, pertumbuhan ekonomi terancam terpangkas dalam sehingga membuat sentimen pelaku pasar memburuk. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka tekanan bagi rupiah masih belum akan berakhir dan yang terburuk masih belum datang.