PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 24/04/2020 – Harga minyak mentah dunia merosot tajam. Bahkan, harga minyak yang diperdagangkan di  kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) sempat minus alias di bawah nol.

Lantas pertanda apa ini? Apa benar dunia betul-betul sudah tercebur ke jurang resesi atau karena lockdown di lakukan negara-negara dunia sehingga membuat kosumsi minyak dunia turun signifikan?

Pertama hal yang harus diketahui, sebenarnya harga minyak yang dirujuk adalah harga minyak mentah kontrak berjangka.

Kontrak berjangka adalah kontrak untuk pengiriman fisik komoditas atau efek tertentu yang mendasarinya. Banyak spekulan yang memperjualbelikan kontrak dengan underlying asset berupa minyak mentah untuk meraup keuntungan.

Perlu diketahui, minyak mentah ada banyak jenisnya, seperti Brent, West Texas Intermediate (WTI), OPEC Reference Basket dan masih banyak lagi. Perbedaan yang mendasari jenis minyak tersebut salah satunya adalah karakteristik minyak.

Nah minyak mentah yang harga kontraknya sampai minus itu adalah minyak jenis WTI atau yang lebih dikenal dengan light sweet dan biasanya jadi acuan Negeri Paman Sam.

Minyak jenis ini memiliki densitas yang lebih rendah (light) dan mengandung sulfur yang lebih rendah dibanding minyak jenis lain seperti Brent. Minyak jenis ini dijadikan underlying aset untuk harga komoditas minyak mentah kontrak New York Merchantile Exchange (NYMEX).

Harga WTI yang dirujuk ini adalah harga untuk pengiriman di bulan Mei 2020 yang kontraknya kedaluwarsa pada tanggal 21 April 2020 waktu AS. Tetapi ternyata harga minyak WTI anjlok karena tidak laku dan tidak ada yang mau beli.

Lho kok bisa tidak ada yang berniat membeli kontrak pengiriman bulan Mei yang kontraknya diperdagangkan pada April. Jawabannya satu, kelebihan pasokan. Pandemi corona (COVID-19) telah membuat banyak negara menghentikan aktivitas ekonominya.

Lantaran, harga minyak begitu buruk, para pelaku pasar lebih suka menyingkirkan kontrak mereka daripada harus mencari cara menyimpan minyak yang memang suplainya sudah keterlaluan banyaknya, padahal tempat penyimpanan sudah sangat terbatas.

Ingat, menyimpan minyak mentah di AS butuh biaya dan ada regulasi tersendiri. Itulah yang menyebabkan harga WTI kontrak Mei hancur.

Alhasil permintaan terhadap minyak pun merosot tajam. Di sisi lain ketika permintaan diramal anjlok signifikan, pemangkasan produksi minyak mentah oleh negara-negara produsen dan eksportir (OPEC+) dinilai tak dapat mengimbangi anjloknya permintaan akibat pandemi.

OPEC+ pada 9 Maret sah menyatakan pemangkasan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bpd). Angka ini setara dengan nyaris 10% output global. Jika ditambah dengan pemangkasan produksi negara lain maka jumlahnya bisa mencapai 20 juta bpd.

Namun eksekusi pemangkasan produksi baru dimulai bulan Mei nanti. Padahal permintaan minyak sudah anjlok signifikan sejak Maret dan April ketika banyak negara memilih lockdown untuk menghambat penyebaran pandemi. Ini lah faktor utama pemicu anjloknya harga minyak.

Fenomena harga minyak minus memang baru terjadi kali ini dalam sejarah. Baru pandemi COVID-19 yang mampu seret si emas hitam sampai ke level di bawah US$ 0/barel.

Namun kini trader, investor atau bahkan spekulan sudah mulai membeli kontrak untuk pengiriman Juni. Harga minyak mentah WTI kontrak untuk pengiriman Juni walau tertekan masih berada di atas US$ 20/barel.