PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 20/01/2020 – Mengawali perdagangan pada pekan ini, emas ditransaksikan menguat tipis. Damai dagang interim Amerika Serikat (AS) dan China serta data ekonomi yang terbilang bagus tak mampu membuat harga emas rontok seketika.
Senin (20/1/2020), harga emas di pasar spot menguat tipis 0,1% dibanding posisi penutupan Jumat pekan kemarin. Emas di pasar spot dihargai di US$ 1.577,77/troy ons.

Harga emas malah menguat di hari penandatanganan kesepakatan dagang fase satu antara AS dan China pada 15 Januari 2020 minggu lalu. Seharusnya damai dagang ini menjadi sentimen yang memberatkan pergerakan harga emas.

Walau sudah diteken, kesepakatan ini masih menyisakan tanda tanya besar. Pasalnya tarif yang tinggi masih dikenakan pada produk impor asal China. Tarif sebesar 25% masih diterapkan pada barang China senilai US$ 250 miliar, sementara sisanya senilai US$ 120 miliar tarifnya hanya dipangkas jadi 7,5%.

Dari sisi Beijing, target pembelian produk AS oleh China juga dinilai tak realistis. Hingga 2021, China ditargetkan untuk membeli produk AS senilai US$ 200 miliar meliputi produk pertanian, energi, manufaktur dan jasa.

Dalam kesepakatan tersebut produk pertanian yang akan dibeli China meliputi minyak nabati, daging, seafood dan kapas. Sementara untuk produk energi meliputi minyak bumi, batu bara, LNG dan produk turunan lain. Ini juga membuat pasar skeptis. Jika benar China memenuhi komitmen, maka ini tak cuma tidak realisitis tetapi juga berpotensi merusak pasar.

Hal tersebut membuat harga emas masih berada di posisi yang kokoh saat ini. Buktinya harga si logam mulia tak langsung anjlok, malah naik walau tipis. Bahkan harga emas masih naik ketika data ekonomi AS dan China juga menunjukkan perbaikan.

Pada Desember tahun lalu, pembangunan rumah baru di AS tumbuh 16,1% yoy menjadi 1,61 juta unit, tertinggi sejak 2006. Kalau melihat dari sisi pertumbuhan, capaian Desember 2019 merupakan yang terbaik sejak Oktober 2016.

Properti merupakan sektor yang banyak keterkaitannya dengan sektor lain. Kala sektor ini tumbuh, maka penjualan semen, baja sampai kredit perbankan pun ikut terdongkrak. Jadi tak heran properti digunakan sebagai salah satu indikator untuk mengukur kesehatan ekonomi.

Sementara beralih ke Negeri Panda, walau pertumbuhan ekonomi China paling rendah dalam tiga puluh tahun terakhir, tetapi data penjualan ritel dan produksi industri mengalami perbaikan. Penjualan ritel China pada Desember 2019 tumbuh 8% yoy, lebih baik dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters di angka 7,8% yoy.

Data produksi industri juga membaik. Bulan lalu, data produksi industri China tumbuh 6,9% yoy lebih tinggi dibanding bulan November yang ada di angka 6,2% yoy dan konsensus pasar yang meramal 5,9% yoy.

Jadi walau data ekonomi AS dan China menunjukkan prospek yang bagus. Namun ketidakpastian masih ada. Ini yang membuat ruang bagi emas untuk merangkak naik masih ada.