PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 23/07/2020 – Harga emas dunia kembali ngegas pada perdagangan Rabu (22/7/2020), mengukuhkan posisinya di level tertinggi dalam 9 tahun terakhir. Sayangnya, penguatan emas terpangkas akibat aksi ambil untung (profit taking), maklum saja melihat posisinya saat ini tentu banyak investor yang memilih mencairkan cuan.

Melansir data Refinitiv, emas pagi tadi melesat 1,29% ke US$ 1.865,35/troy ons, menjadi yang tertinggi sejak 9 September 2011. Untuk diketahui, rekor tertinggi sepanjang masa emas berada di level US$ 1.920,3/troy ons yang dicapai pada 6 September 2011. Ini berarti jarak emas dari level tertinggi hari ini ke rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 2,95%.

Jika pergerakan emas konsisten seperti saat ini, dalam hitungan hari rekor tertinggi sepanjang masa tentunya akan dipecahkan.

Namun semakin dekat dengan rekor, fluktuasi harga tentunya akan semakin sering terjadi, khususnya akibat aksi profit taking. Hari ini saja, penguatan emas langsung terpangkas, berada di level US$ 1.854,01/troy ons pada pukul 17:05 WIB di pasar spot.

“Tangki Bensin” emas sedang penuh saat ini, sehingga peluang mencetak rekor tertinggi terbuka lebar. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) membuat dunia terancam mengalami resesi, emas yang menyandang status safe haven menjadi salah satu pilihan investasi.

Untuk membangkitkan lagi perekonomian, bank sentral berbagai negara menggelontorkan stimulus moneter, suku bunga dipangkas habis di negara-negara maju, dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) digelontorkan dengan nilai jumbo.

Akibatnya, jumlah uang yang beredar di perekonomian akan melimpah sehingga berpotensi memicu kenaikan inflasi. Emas lagi-lagi diuntungkan dengan kondisi tersebut.

Terbaru, dolar Amerika Serikat (AS) nyungsep. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap 6 mata uang utama lainnya kemarin merosot hingga menyentuh level 3,5 bulan di 95,117.

Penyebab merosotnya indeks dolar yakni stimulus fiskal yang digelontorkan Eropa senilai 750 miliar guna membangkitkan perekonomian yang merosot ke jurang resesi akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Kebijakan tersebut menimbulkan harapan akan kebangkitan ekonomi Benua Biru dan membuat kurs euro melesat naik.

Euro merupakan merupakan satu dari enam mata uang yang membentuk indeks dolar, bahkan kontribusinya paling besar yakni sebesar 57,6%. Sehingga ketika euro menguat tajam melawan dolar AS, indeks dolar akan merosot. Indeks ini juga biasa dijadikan tolak ukur kekuatan dolar AS terhadap mata uang lainnya.

Emas dapat keuntungan lagi. Dibanderol dengan dolar AS, harga logam mulia akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain kala the greenback melemah. Permintaan emas berpotensi meningkat, sehingga “tangki bensin” emas untuk memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa sedang full, tinggal seberapa kencang emas bakalan ngegas.

Mengutip Kitco News Analis dari Citigorup Inc. mengatakan, emas akan memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa dalam tempo 6 sampai 9 bulan ke depan. Dan ada peluang sebesar 30% emas akan melewati level US$ 2.000/troy ons dalam 3 sampai 6 bulan setelahnya.

Secara teknikal, target penguatan ke US$ 1.846/troy ons pada analisis kemarin berhasil dicapai bahkan jauh lebih tinggi. Emas pun mendapat momentum penguatan, jika hari ini mengakhiri perdagangan di atas US$ 1.860/troy ons maka target selanjutnya ke US$ 1.885/troy ons (level tertinggi 9 September 2011).

Sementara jika hari ini emas mengakhiri perdagangan hari ini di bawah US$ 1.860/troy ons, emas berisiko terkoreksi melihat, indikator stochastic masih berada di wilayah jenuh beli (overbought). Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga.

Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik turun. Koreksi berisiko membawa harga emas ke level US$ 1.840/troy ons yang merupakan support terdekat. Jika dilewati, emas berisiko terkoreksi ke US$ 1.818/troy ons. Smber : cnbcnews