PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 05/03/2020 – Luar Biasa! Di Di luar prediksi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali meroket 2,38% pada perdagangan Rabu (4/3/20), melanjutkan penguatan 2,94% pada perdagangan hari sebelumnya.

Pasalnya, sesaat sebelum pasar saham dibuka di Asia, pasar saham Negeri Paman Sam amblas begitu adanya pemangkasan suku bunga acuan Fed Fund Rate dan diprediksi akan membebani pergerakan pasar saham di Benua Kuning.Langkah pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin hingga 1%-1,25% dari 1,5%-1,75% itu dianggap merupakan langkah putus asa (desperate attemp) menghadapi potensi berlama-lamanya awan hitam dari virus corona Covid-19.
Lain ladang, lain belalang. Yang terjadi selanjutnya di Tanah Asia ternyata adalah sebaliknya. Pasar saham Benua Kuning yang menguat meskipun tidak signifikan turut mendukung kedigdayaan IHSG pada perdagangan kemarin hingga menjadi Raja Asia dalam sehari.

IHSG membuka perdagangan dengan menguat tipis 0,1% di 5.524,094, tidak lama penguatan langsung ter-akselerasi hingga 2,02% di 5.630,268, sebelum sedikit terpangkas dan mengakhiri sesi I di level 5.623,821 atau menguat 1,91%.

Laju impresif IHSG kembali berlanjut di perdagangan sesi II, penguatan IHSG menebal hingga 2,38% ke 5.650,136 di akhir perdagangan.

Dengan penguatan hari ini, total dalam 2 hari terakhir IHSG sudah menguat 5,32% setelah membukukan pelemahan tujuh pekan beruntun dengan total 10,2%.

Semua sektor di IHSG menguat di perdagangan sesi I. Sektor industri dasar memimpin penguatan di sesi I tersalip sektor infrastruktur yang melesat 4,02%. Sektor finansial sendiri mencatat penguatan 3,87%. Sementara Sektor finansial dengan kapitalisasi pasar terbesar menguat 1,96%.

Berdasarkan data RTI, nilai transaksi yang tercatat kemarin adalah Rp 6,9 triliun dengan investor asing melakukan aksi jual bersih (nett foreign sell) di pasar reguler senilai Rp 26,75 miliar.

Stimulus moneter sejak awal pekan ini membuat IHSG melesat 2 hari terakhir. Di awal pekan, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan 5 kebijakan guna meredam dampak wabah virus corona ke perekonomian.

Selain itu, angin segar yang juga menambah keceriaan pasar yang sedang hype kemarin adalah gembar-gembor rencana aksi beli balik (buyback) saham di pasar oleh banyak emiten, terutama dari perusahaan BUMN yang listing di bursa. Rencana itu tentu karena menyikapi potensi dikeluarkannya relaksasi peraturan yang biasa disebut “buyback in crisis” oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Memang nilai buyback belum diumumkan oleh sebagian besar emiten saham. Jikapun nilainya tidak besar nanti, tampaknya aksi beli balik tersebut dapat menambah alasan bagi investor untuk lebih confident di pasar dengan asumsi harga saham yang sudah mendapat cap dari penerbitnya sudah berada pada level yang cukup murah.

Selain itu, pernyataan Bursa Efek Indonesia yang melarang transaksi jual kosong (short sell) dan OJK yang melonggarkan penghitungan kolektabilitas debitur perbankan terhadap korban virus corona Covid-19 juga menambah keyakinan pasar, meskipun potensi dampak positifnya masih perlu dihitung lagi.