PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 03/06/2020 – Optimisme bahwa para produsen minyak global akan memperpanjang periode pemangkasan output membuat harga emas hitam melesat pagi ini. Bahkan untuk minyak Brent berjangka, kini sudah ditransaksikan di atas US$ 40/barel.

Pada perdagangan pagi waktu Asia Rabu (3/6/2020), harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan naik lebih dari 2%. Pukul 08.35 WIB, minyak mentah acuan global Brent dibanderol US$ 40,39/barel atau naik 2,07%.

Di saat yang sama, harga minyak mentah acuan Negeri Paman Sam (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) melesat lebih tinggi dengan kenaikan mencapai 2,8% dibanding posisi penutupan kemarin. Kini untuk kontrak satu barel minyak WTI harganya mencapai US$ 37,84/barel.

 

Memasuki bulan Mei, harga minyak rebound. Ekonomi China yang kembali pulih serta pembukaan kembali ekonomi secara gradual di banyak negara membuat prospek permintaan minyak mulai membaik.

Di samping itu upaya para produsen yang terdiri dari Arab Saudi, Rusia dan koleganya (OPEC+) untuk menurunkan pasokan demi mendongkrak harga juga sudah mulai membuahkan hasil walau harga minyak masih terkoreksi 30% lebih sejak awal tahun.

Pada awal April, OPEC+ sepakat untuk memangkas produksi minyaknya hingga 9,7 juta barel per hari (bpd) mulai bulan Mei hingga Juni. Pemangkasan produksi minyak juga masih akan dilanjutkan pada Juli hingga akhir tahun sebanyak 7,7 juta bpd.

Bulan Mei sudah berlalu, kini tersiar kabar bahwa OPEC+ akan mempertahankan kuota pemangkasan produksi 9,7 juta bpd atau setara dengan 10% output global hingga Juli atau Agustus. Kabar gembira ini langsung direspons positif oleh pasar. Harga minyak pun melesat.

OPEC+ dikabarkan akan menggelar pertemuan online pada Kamis (4/6/2020) maju dari yang dijadwalkan sebelumnya untuk membahas kelanjutan kebijakan produksi minyaknya. Dengan dua kabar baik ini, maka wajar saja jika harga minyak kini terus membaik.

“Ketika langkah-langkah pengendalian virus (lockdown) mulai dicabut, kami berharap permintaan akan berangsur pulih,” tulis Capital Economics dalam sebuah catatan, mengutip Reuters.

Capital Economics memperkirakan bahwa konsumsi minyak global akan turun di bawah 92 juta bpd di 2020 lebih rendah dibandingkan dengan 100,2 juta bpd tahun lalu sebelum pandemi melanda Eropa dan Amerika Serikat.

“Minyak kemungkinan berakhir dengan defisit kecil akhir tahun ini, yang seharusnya memberikan dukungan tambahan untuk harga,” tambahnya.