PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 19/11/2019 – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin kemarin (18/11/19) melanjutkan pelemahan perdagangan pada Jumat pekan lalu.

Pada pukul 13:39 WIB Senin kemarin, harga emas diperdagangkan di level US$ 1.464,51/troy ons, melemah 0,18% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Tekanan turun bagi harga emas kini cukup kuat setelah Amerika Serikat (AS) dan China terlihat kompak dalam memberikan update terbaru perundingan dagang kedua negara awal pekan ini.

Chief Commodities Economist di Capital Economics, Caroline Bain, memprediksi tren kenaikan harga emas dunia sudah berakhir. Capital Economics merupakan lembaga riset makroekonomi ternama yang berbasis di London.

Melansir kitco.com, Bain memproyeksikan harga emas dunia berada di kisaran US$ 1.350/troy ons di akhir 2020. “Tren kenaikan harga emas sudah berakhir,” ujarnya.

Untuk tahun 2021, harga emas diprediksi masih akan turun lagi ke kisaran US$ 1.250/troy ons.

Capital Economics memprediksi di tahun depan pertumbuhan ekonomi global akan membaik, yang membuat selera terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar meningkat, dampaknya emas tidak akan menarik lagi. Bain mengatakan “investasi terbaik” untuk tahun depan bukan logam mulia.

 

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, pada Kamis waktu AS, menyatakan bahwa negosiasi dengan Beijing berjalan konstruktif, dan mengatakan dua raksasa ekonomi dunia ini akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat setelah melakukan perundingan intensif melalui telepon.

Minggu kemarin giliran media China, Xinhua, yang mengatakan jika pembicaraan level tinggi kedua negara melalui telepon berlangsung konstruktif.

Foto: Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, Menteri Keuangan Steven Mnuchin, Menteri Perdagangan Wilbur Ross, penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow dan penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro berpose untuk foto dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He, wakil menteri China dan pejabat senior sebelum dimulainya Pembicaraan perdagangan AS-Cina di Gedung Putih di Washington, AS, 21 Februari 2019

Meski demikian, Xinhua tidak memberikan detail sejauh mana isu-isu penting yang sudah diselesaikan, serta kapan kesepakatan dagang akan diteken. Hal inilah yang menyebabkan pelaku pasar enggan berekpektasi berlebihan. Tetapi jika sampai terjadi penandatangan kesepakatan dagang dalam tekanan, maka emas berpotensi mengalami aksi jual hebat.

Hanya saja, masih ada harapan untuk harga emas kembali menguat. Pasalnya tadi malam, dilansir dari CNBC International, gejolak muncul lagi dari pembicaraan dagang AS dan China. Di mana Presiden China Xi Jinping dikabarkan pesimis dengan perdamaian karena AS tak kunjung membatalkan tarif.

Ketika dua raksasa ekonomi ini menghentikan perang dagang, kondisi ekonomi global diprediksi bisa bangkit, hal tersebut tentunya membuat investor memburu aset-aset berisiko yang memberikan imbal hasil tinggi. Emas merupakan aset aman (safe haven) yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga menjadi tidak menarik lagi.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di bawah MA 8, dan MA 21, tetapi di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak dan di wilayah jenuh jual (oversold).

Emas bergerak di dekat US$ 1.462/troy ons, yang menjadi support (tahanan bawah terdekat). Emas berpeluang turun kembali ke US$ 1.458/troy ons jika menembus support terdekat tersebut.

Peluang ke area US$ 1.453 sampai US$ 1.446/troy ons menjadi terbuka seandainya emas mampu menembus konsisten di bawah US$ 1.458/troy ons.

Sebaliknya mampu bertahan di atas support (batas bawah) US$ 1.462/troy ons, emas berpeluang naik ke US$ 1.465/troy ons. Penembusan di atas US$ 1.465/troy ons, akan membawa harga naik ke US$ 1.472 sampai US$ 1.476/troy ons.

Resisten (batas atas) selanjutnya berada di level US$ 1.480/troy ons, selama tertahan di bawah level tersebut, ke depannya emas masih cenderung akan melemah. Smber : cnbcnews