PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 18/06/2020 – Naiknya stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) periode mingguan menjadi sentimen negatif yang membuat harga minyak terkoreksi pagi ini. Meski turun, harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai ditransaksikan berada masih berada di rentang US$ 35 – US$ 40/barel di bulan ini.

Harga minyak mentah terpangkas lagi pada Kamis (18/6/2020). Pada 08.40 WIB harga minyak Brent turun 0,98% ke US$ 40,31/barel. Di saat yang sama, harga minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam dengan koreksi sebesar 1,53% ke US$ 37,38/barel.

Setidaknya ada dua sentimen yang membebani harga minyak mentah. Pertama stok minyak AS periode mingguan yang mengalami peningkatan. Semalam Energy Information Agency (EIA) melaporkan stok minyak mentah AS naik 1,25 juta barel pekan lalu (hingga 12 Juni 2020).

Pada saat yang sama stok mingguan minyak distilat (diesel dan heating oil) dan bensin mengalami penurunan masing-masing sebesar 1,36 juta barel dan 1,67 juta barel. Meski stok minyak distilat dan bensin turun, bertambahnya stok minyak mentah AS masih jadi kekhawatiran pelaku pasar.

Sentimen kedua yang membuat harga minyak tertekan adalah ancaman gelombang kedua wabah. AS dan China kembali melaporkan terjadinya lonjakan kasus beberapa hari terakhir.

Di AS, beberapa wilayah yang melaporkan adanya lonjakan kasus baru antara lain Texas, Florida dan California. Dalam 24 jam terakhir, Oklahoma melaporkan adanya 259 kasus baru. Sementara di Florida dan Arizona jumlah kasus baru bertambah masing-masing sebesar lebih dari 2.600 dan 1.800 kasus.

Beralih ke China, hingga 16 Juni kemarin, Beijing melaporkan ada tambahan 137 kasus baru. Lonjakan kasus ini pada akhirnya membuat pemerintah menutup sekolah dan membatalkan kurang lebih 60% penerbangan di bandara internasional Beijing.

Laporan bertambahnya kasus baru di kedua negara dikhawatirkan akan membuat lockdown kembali diterapkan. Jika mobilitas kembali dibatasi maka permintaan terhadap bahan bakar dan minyak mentah akan kembali tertekan.

Namun ada faktor lain yang masih menopang harga minyak sehingga tidak terjun bebas seperti Maret lalu. Upaya para produsen minyak seperti Arab Saudi, Rusia dan koleganya (OPEC+) untuk memangkas produksi besar-besaran masih membuat harga minyak terjaga.

OPEC+ sepakat untuk memotong produksi minyaknya sebesar 9,7 juta barel per hari (bpd) atau setara dengan hampir 10% dari output global hingga Juli ini. Beberapa negara anggota yang memiliki komitmen rendah seperti Iraq juga menyatakan akan mendukung langkah pemangkasan output ini.