PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 06/05/2020 – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang April 2020 sebesar 0,08% dibandingkan Maret 2020. Sedangkan dibandingkan dengan April 2019 inflasi tercatat 2,67%.

Inflasi April salah satunya dipicu oleh kenaikan harga emas dan perhiasan. Emas pada bulan lalu memberikan andil 0,06% ke inflasi.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, kenaikan emas terpantau di 87 kota dari 90 kota yang menjadi acuan BPS. Kenaikan harga emas tertinggi terjadi di kota Semarang.

Harga emas perhiasan alami kenaikan dan terjadi di 87 kota. Misalnya Semarang kenaikan harga emas 16%,” ujarnya melalui teleconference, Senin (4/5/2020).

Baca :

PT KP PRESS || Wall St.Main St. Menantikan Pantulan Dalam Harga Emas

“Pergerakan inflasi ini tidak biasa dengan pola sebelumnya, tahun lalu masuk Ramadan dan jatuh pada Mei inflasi meningkat, tahun ini justru melambat,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (4/5/2020).
Mengacu data Refinitiv selama sebulan terakhir harga emas dunia naik US$ 35,4 atau 2,13% menjadi US$ 1.697/troy ons pada catatan pukul 16:30 WIB Selasa ini (5/5/2020)

Sementara harga emas dunia di pasar spot sepanjang ramadan tahun lalu terhitung sejak 6 Mei 2019 hingga 4 Juni 2019 harga emas dunia naik USS 44,81 atau 3,5% ke harga US$ 1.324,88/troy ons.

Selain itu, harga emas logam mulia kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum yang diproduksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) ramadan tahun lalu terhitung sejak 6 Mei 2019 hingga perdagangan terakhir sebelum lebaran yaitu 31 Mei 2019, harga emas Antam turun 0,32% atau sebesar Rp 2.000 pada Rp 613.000/gram.

Sementara selama sebulan terakhir harga emas Antam turun 2,08% atau sebesar Rp 18.000 menjadi Rp 864.000/gram pada perdagangan hari Selasa ini (5/5/2020).

Lalu bagaimana dampak kenaikan harga emas dan perhiasan yang menjadi salah satu pendorong rendahnya inflasi dan berkontribusi 0,06% ke inflasi tersebut terhadap kinerja emiten saham sektor logam ini selama sebulan.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, kinerja saham emiten emas selama sebulan yaitu :

 

Emiten EmasFoto: Table
Emiten Emas

Bank investasi global asal Swiss, UBS, memproyeksikan harga emas dunia berpotensi menembus level tertinggi tahun ini setelah menurun pada Maret lalu, bersamaan dengan koreksi yang dialami sejumlah aset investasi lain secara global termasuk pasar saham.

“Dalam pandangan kami, ada potensi bagi harga [emas] untuk bisa menembus US$ 1.800 [per troy ons],” kata Joni Teves, Ahli Strategi Logam Mulia di UBS Investment Bank, dalam program “Squawk Box Asia” di CNBC, dikutip Selasa (5/5/2020). Dalam waktu dekat, USB memiliki target harga emas bisa mencapai US$ 1.790/troy ons.

Sebagai catatan, 1 troy ons setara dengan 31,1 gram, sehingga jika harga emas mencapai US$ 1.800/troy ons itu artinya harga per gramnya dalam rupiah sekitar Rp 896.985/gram (asumsi kurs Rp 15.500/US$).

Prediksi itu didukung sentimen positif dari kecenderungan investor melirik aset safe haven alias instrumen investasi aman di tengah ketidakpastian global dan sektor riil yang juga masih negatif.

Harga emas dunia cenderung mengalami kenaikan di kala perekonomian menghadapi goncangan, investor beramai-ramai memburu emas untuk mencari perlindungan. Selain itu, apresiasi harga emas juga mendapat dukungan dari kebijakan bank sentral global yang menerapkan tingkat suku bunga rendah.

Sementara kebijakan bank sentral dalam memberikan pelonggaran kuantitatif (QE) dengan membeli aset-aset finansial berbasis utang seperti surat utang pemerintah, efek beragun aset residensial hingga obligasi korporasi memicu penurunan yield yang membuat emas menjadi lebih menarik di mata investor.

Jika emas mampu kembali menembus level US$ 1.700, maka bukan tidak mungkin emas bisa melanjutkan penguatan ke level psikologis selanjutnya di US$ 1.800/troy ons.

Kendati demikian, naiknya harga emas dunia tidak serta merta membuat saham sektor logam ini ikut melonjak karena ada beberapa faktor yang juga mempengaruhi dari kinerja saham-saham sektor tersebut. Smber : cnbc