KONTAK PERKASA FUTURES – Para pengusaha Indonesia yang bekerjasama dengan pengusaha Inggris patut waspada. Dalam sepekan terakhir ini, indeks bisnis terkait kepercayaan pengusaha Inggris terhadap Indonesia nampak mengalami penurunan yang cukup signifikan, terutama jika dibandingkan dengan persentase indeks bisnis Inggris terhadap Indonesia tahun lalu. Jika tahun 2012 mencatat bahwa indeks kepercayaan bisnis pengusaha Inggris di Indonesia adalah sekitar 83%, maka tahun ini hanya sebesar 20%.

Angka ini diperoleh dari survey tahunan yang dilakukan secara kerjasama antara Kadence International dan perwakilan bisnis Inggris yaitu British Chamber of Commerce in Indonesia. Selain mengungkap penurunan indeks kepercayaan bisnis, ternyata ada juga penurunan dalam indeks terkait kemudahan berbisnis di Indonesia, dari yang sebanyak 65% di tahun sebelumnya menjadi 55%. Kedua hasil survey ini pun patut menjadi perhatian baik pemerintah maupun para pebisnis di Indonesia jika masih berminat bekerjasama dengan Inggris. Lalu, apakah ini berarti kabar buruk bagi iklim investasi Indonesia dengan Inggris?

 

Prospek Bisnis Inggris di Indonesia

Secara umum, hasil survey indeks bisnis ini memang tidak mengakibatkan hal yang fatal. Menurut kepala perwakikan British Chamber of Commerce di Indonesia, Haslam Preeston, mengungkap bahwa sebenarnya pengusaha Inggris banyak yang masih berminat untuk menjalankan bisnis di Indonesia. Selain itu, ada banyak aspek bisnis dan usaha Indonesia yang dianggap masih potensial untuk dijadikan obyek investasi. Akan tetapi, penurunan berbagai tingkatan indeks bisnis ini harus dijadikan perhatian terutama oleh pemerintah.

Pasalnya, penurunan indeks bisnis terkait kepercayaan dan persepsi akan kemudahan bisnis di Indonesia terjadi akibat berbagai permasalahan rutin yang sampai saat ini belum juga diatasi secara maksimal, seperti:

  • Kemelut hukum terkait standar penggajian dan jam kerja dalam dunia perburuhan di Indonesia yang sering mengakibatkan pemogokan dan perseteruan antara buruh dan perusahaan, terutama dengan banyaknya berita tentang perusahaan asing yang berniat menutup usahanya di Indonesia karena masalah perburuhan.
  • Kondisi infrastruktur yang sering mengalami masalah seperti kondisi jalan di berbagai daerah yang sering rusak, jaringan internet yang terhitung sangat lambat, permasalahan terkait kualitas pelayanan PLN dan PDAM serta penyedia layanan telepon dan sebagainya. Hal-hal ini sangat berpengaruh dalam jalannya bisnis.
  • Iklim korupsi di Indonesia yang sangat kental dan bahkan menjadi pembicaraan media internasional; hal ini membuat banyak pengusaha Inggris takut bekerjasama dengan institusi pemerintah.

Semua permasalahan ini kerap diangkat oleh media dan belakangan selalu menjadi pembicaraan hangat, sehingga sedikit banyak pun berpengaruh pada menurunnya kepercayaan para pengusaha Inggris untuk berbisnis dan berinvestasi di Indonesia. Lagi-lagi menurut Haslam Preeston, walaupun Inggris sendiri belum kehilangan minat untuk berinvestasi dan berbisnis di Indonesia, penurunan indeks bisnis terkait kepercayaan dan kemudahan bisnis Inggris terhadap Indonesia patut mendapat perhatian.

 

Pekerjaan Rumah bagi Pemerintah

Jika pemerintah masih menginginkan kerjasama dan suntikan dana investasi dari Inggris, maka ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Pemerintah harus bekerjasama dengan instansi terkait soal pemberantasan korupsi, termasuk penerapan pengawasan dan efek jera yang lebih hebat. Selain itu, pemerintah juga harus turun tangan menangani masalah infrastruktur yang tak kunjung selesai. Masalah perburuhan juga harus diselesaikan agar membawa hasil memuaskan baik bagi buruh maupun pengusaha dan investor.

Penurunan indeks bisnis membuat para pengusaha harus bekerja lebih keras, namun tak bisa tanpa dukungan dari pemerintah yang memiliki wewenang atas semua faktor yang mengakibatkan kenaikan atau penurunan indeks bisnis.