KPF BALI 17/06/14 – Poundsterling terjun bebas terhadap Dolar AS pada Selasa sore hari ini akibat data inflasi Inggris yang dilaporkan menurun menjadi 1.5% pada bulan Mei. GBP/USD terjungkal 0.22% ke angka 1.6945 dari 1.6981 sesaat setelah laporan tersebut dirilis pada pukul 16:00 WIB tadi. Pair ini sempat meroket hingga 1.7011 pada Senin kemarin.

Pound
Badan Statistik Nasional Inggris melaporkan, inflasi Inggris bulan Mei mengalami penurunan dari 1.8% pada bulan April menjadi 1.5% pada bulan Mei. Perolehan pada bulan Mei ini menjadi yang terendah sejak bulan Oktober 2009. Penurunan CPI Inggris tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi para ekonom, yaitu 1.7%. Sementara, inflasi inti, tidak termasuk harga makanan namun termasuk ongkos transportasi, mengalami kenaikan tahunan sebanyak 1.6% versus ekspektasi 1.7%.

Melemahnya inflasi Inggris disebabkan oleh turunnya biaya tarnsportasi, utamanya tiket transportasi udara, dimana pada bulan yang sama tahun lalu, juga tercatat mengalami penurunan. Selain itu, turunnya harga makanan, minuman ringan, dan pakaian jadi juga menyeret inflasi menjadi lebih rendah. Harga makanan anjlok 0.6% pada bulan lalu sebagai akibat dari perang harga yang terjadi di pasar swalayan Inggris.

Di sisi lain, laporan tersebut juga menjelaskan bahwa harga rumah melejit 9.9% pada bulan April, peningkatan yang tertinggi sejak Juni 2010. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan adanya gelembung yang makin membengkak di pasar properti Inggris. Laporan ekonomi Inggris pada sore hari ini menjadi kontradiktif dengan rencana BOE untuk menaikkan suku bunga acuan lebih cepat dari perkiraan pasar.

Terhadap Euro, Pound harus mengalah dengan pair EUR/GBP yang menguat 0.14% ke 0.8003 pasca dirilisnya data ZEW Jerman. Indeks ZEW menunjukkan bahwa sentimen ekonomi Jerman merosot ke level rendah 18 bulan menjadi 29.8 bulan ini, dari 33.1 pada bulan Mei.