PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 05/01/2018 – Harga batubara Newcastle untuk kontrak pengiriman Februari 2018 pada Kamis (4/1) ditutup di US$ 104,25 per metrik ton atau naik 3,22% dari sehari sebelumnya. Level ini merupakan angka tertinggi sejak 2016.

Mengutip pemberitaan Reuters, Kamis (4/1), harga naik fantastis karena terdapat permintaan besar dari China untuk musim dingin. Adapun India diperkirakan akan impor batubara sepanjang kuartal pertama 2018. Serta terdapat penundaan pada pengiriman batubara dari Kalimantan dan sejumlah pelabuhan di China.

KONTAK PERKASA FUTURES

 

“Masalah di pengiriman Kalimantan adalah hasil dari hujan deras. Hal ini menyebabkan permintaan pengganti untuk suplai dari Newcastle (Australia), akibatnya harganya naik,” jelas seoarnag trader batubara yang tidak disebut namanya kepada Reuters.

Pelambatan pengiriman ini terjadi sejak akhir 2017 dan menjadi makin buruk. Data pengiriman milik Thomson Reuters Eikon menunjukkan, terdapat 100 kapal besar dry-bulk yang menunggu dimuat di sepanjang pesisir Kalimantan, terutama di Samarinda dan Taboneo. Data tersebut menyebutkan, sejumlah kapal telah menunggu sejak Oktober.

Tak hanya dari Indonesia, pemuatan dan pengiriman batubara dari China juga mengalami hambatan. Sebanyak 400-500 kapal tengah berhalau di Shanghai/Ningbo dan Teluk Zhili, yang menyediakan akses ke pelabuhan Tianjin, Coafeidian, Qinhuangdao dan Bayuquan.

PT KONTAKPERKASA

Batubara memasuki harga US$100 per metrik ton sejak pertengahan Desember, sebuah level yang terakhir terjadi pada Mei 2013 silam.

Setelah tarik ulur singkat, akhirnya di pengujung tahun, harga batubara Newcastle kontrak pengiriman Februari 2018 di ICE Future Exchange di Jumat (29/12) tutup dengan kenaikan 29,75% ke US$ 100,1 per metrik ton.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures jelaskan bahwa harga batubara sempat terguncang setelah China mengumumkan reformasi tambang dan pengurangan produksi batubara demi mengurangi polusi. Akibatnya harga batubara sempat menyentuh level US$ 47,52 per metrik ton pada kuartal II-2017.

Untungnya pada kuartal III, Korea Selatan memberikan sinyal permintaan batubara yang kuat. Pada September, impor batubara ke Negeri Ginseng ini mencatat rekor 11,3 juta ton. Impor ini untuk keperluan pembangkit listrik mereka yang sempat terganggu karena reaktor nuklirnya mengalami masa perbaikan.

Adapun pemogokan yang sempat terjadi pada tambang batubara di Australia dan gangguan cuaca di Indonesia menyebabkan suplai batubara terkikis. Dengan demikian di akhir kuartal ketiga harga sudah memasuki level US$ 50 per metrik ton lagi.

Tak hanya itu, memasuki musim dingin, permintaan China malah meningkat tajam. Gas alam rendah polusi yang digunakan untuk penghangat rumah tangga tak cukup menahan suhu dingin yang ekstrem dan menyebabkan impor batubara ke negeri tersebut meningkat tajam.

“Kebijakan substitusi gas alam China sedang dicoba tapi belum mantap dan terkendala. Jadi batubara masih diperlukan China terkait permintaan yang tinggi di musim dingin,” jelas Wahyu, kepada KONTAN, Rabu (3/1)

Wahyu perkirakan, harga batubara tahun depan bakal menguat ke kisaran US$ 70 – US$ 120 per metrik ton. Pasalnya, China masih menjadi faktor yang besar. Adapun pemerintahan Presiden AS Donald Trump sangat pro-batubara dan ekspansi industri, sehingga baik produksi dan permintaan dari AS bakal meningkat.

Ingat juga, saat harga minyak melambung, maka harga batubara juga akan ikut naik. Pasalnya, saat harga minyak terlalu tinggi, maka pasar bakal beralih ke batubara yang harganya lebih murah.