PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 30/04/2018 – Sejak Maret hingga April, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilanda aksi jual. Pasar saham banyak tertekan isu global. Dalam sebulan saja, total jual bersih (net sell) investor asing sudah mencapai Rp 9,83 triliun.

Padahal, ada istilah sell in may and go away. Investor dianggap bakal keluar dari pasar di bulan Mei, lantaran musim dividen sudah kelar. Kalau ini terjadi, IHSG bakal semakin tertekan.

KONTAK PERKASA FUTURES

Analis Semesta Indovest Sekuritas Aditya Perdana Putra mengatakan, biasanya aksi jual investor asing di Mei dilakukan lantaran investor merealisasikan keuntungan yang sudah diperoleh di bulan-bulan sebelumnya. Namun, tahun ini terjadi anomali. “Sebab pada Maret lalu, IHSG seharusnya positif, tapi malah berada dalam tekanan,” jelas Aditya

Ia bilang, IHSG di bulan Mei ini masih akan cenderung tertekan. Namun, hal ini bukan disebabkan aksi profit taking, melainkan karena ada rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang akan menekan IHSG.

Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bakal berlangsung pada 2 Mei mendatang. Pasar bakal bergerak berdasarkan respons dari pemangku kebijakan di Indonesia dalam menyingkapi prospek kenaikan suku bunga The Fed. Tapi, analis senior Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar mengatakan, suku bunga The Fed masih belum akan naik pada Mei mendatang.

“Saya rasa tidak akan secepat itu The Fed menaikkan suku bunga, karena baru pada bulan lalu suku bunga dinaikkan,” ujar William. Justru dia menilai kalau IHSG di bulan depan akan lebih banyak disetir data domestik. Misalnya, data pertumbuhan ekonomi dan data inflasi April.

Aditya mengatakan, jika data ekonomi dalam negeri sesuai harapan pelaku pasar, maka IHSG di bulan Mei bisa bergerak positif. Di sisi lain, William menganggap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan stagnan, meski inflasi tetap terkendali.

Strategi investasi

Di tengah situasi pasar modal yang masih dibayangi tekanan, Aditya menyarankan investor sebaiknya menahan posisi dulu, setidaknya hingga tanggal 8 Mei saat data ekonomi dalam negeri dirilis. Namun, jika ingin mulai beli di awal Mei, Aditya menyarankan investor tetap selective buy dengan mengincar saham-saham berfundamental bagus dengan valuasi murah.

Investor juga perlu mencermati prospek sektor. Kinerja sektor barang konsumsi, perkebunan, dan sektor aneka industri kurang menggembirakan. “Yang masih bagus adalah sektor perbankan,” ujar Aditya. Jadi, walaupun ada aksi jual di saham bank belakangan ini, investor masih bisa mulai beli.

Sementara, William menilai kalau saat ini justru waktu yang tepat untuk belanja saham di harga murah. Pembelian saham bisa dilakukan sedikit demi sedikit sembari menunggu data ekonomi yang akan diumumkan pada 7 -8 Mei.

Investor bisa mengambil posisi beli di harga bottom. “Ini kesempatan investor untuk membeli saham-saham yang valuasinya murah. Apalagi, tekanan ini kemungkinan hanya berlangsung pada semester pertama,” imbuh William. Di semester kedua, setidaknya akan ada perputaran uang yang lebih deras dari hajatan Asian Games dan Pilkada.

Aditya memprediksi, IHSG bisa menguji resistance di level 6.100 dengan support 5.900. William pun menyebutkan rentang yang sama. Menurutnya, bulan depan IHSG akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang 5.900 sampai 6.100.