PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 12/12/2016 – Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 3,5 miliar. Aksi ini merupakan kegiatan pre–funding, mengamankan dana untuk kebutuhan pembiayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 di awal tahun depan.

Penerbitan surat utang global pada 1 Desember 2016 itu juga bagian dari Program Global Medium Term Notes (GMTN) sebesar US$ 50 miliar. Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, penawaran yang masuk atas SUN denominasi dollar AS tersebut mencapai US$ 12 miliar.

Ada tiga seri USD bond tawaran pemerintah.

Pertama, RI0122 senilai US$ 750 juta dengan kupon 3,7% per tahun. Instrumen ini dilepas dengan harga 99,76% dan yield 3,75%. Surat utang bertenor lima tahun itu jatuh tempo 8 Januari 2022.

Kedua,  RI0127 sebesar US$ 1,25 miliar yang berkupon 4,35% per tahun. Efek ini diluncurkan seharga 99,59% dan yield 4,4%. Obligasi bertempo 10 tahun itu bakal kedaluwarsa pada 8 Januari 2027.

Ketiga, RI0147 dengan nilai US$ 1,5 miliar dan berkupon 5,25% per tahun. Seri ini diterbitkan dengan harga 99,24% serta yield  5,3%. Instrumen bertenor 30 tahun itu jatuh tempo 8 Januari 2047.

DJPPR Kementerian Keuangan menyebutkan, yield yang dimenangkan kali ini lebih rendah dibandingkan dengan initial price guidance pemerintah. Yakni, 25 basis poin (bps) untuk tenor lima tahun, 35 bps untuk jangka waktu 10 tahun, serta 40 bps untuk tenor 30 tahun.

Penerbitan ketiga seri SUN dollar AS tersebut mengoleksi rating BBB- (stable) dari Fitch serta Baa3 (stable) dari Moody’s. Joint Lead Managers dan Joint Bookrunners dalam transaksi surat utang ini adalah BofA Merrill Lynch, Citigroup, HSBC, Standard Chartered Bank (Stanchart).

Pemerintah menunjuk PT Bahana Securities, PT  Danareksa Sekuritas, PT  Mandiri Sekuritas, serta PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk sebagai co-managers.

Kupon lebih rendah

Beben Feri Wibowo, Senior Research Analyst Pasar Dana menuturkan, dalam penerbitan kali ini, biaya pendanaan alias cost of fund (CoF) pemerintah lebih murah. Sebab, kupon yang ditawarkan tahun ini lebih rendah ketimbang kupon USD Bond bertenor sama yang meluncur akhir tahun lalu. Maklum, makroekonomi Indonesia sepanjang 2016 cenderung membaik. Ini tercermin dari penurunan risiko investasi dalam negeri serta suku bunga acuan Bank Indonesia, BI 7-day rate.

Menurut Beben, momentum penerbitan USD Bond juga terbilang tepat. Sebab, bank sentral AS, The Fed berpotensi mengerek suku bunga pada pertemuan 13 Desember 2016–14 Desember 2016. “Sehingga, kupon yang ditawarkan masih menarik di mata investor,” terangnya.

Soal tingginya penawaran yang masuk, Beben menilai,  lantaran kupon yang atraktif. Bandingkan saja dengan rata-rata suku bunga deposito valuta asing (valas) perbankan yang di bawah 1% (per 8 Desember 2016) serta suku bunga penjaminan valas Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang tercatat 0,75%.

Terlebih, suku bunga acuan mayoritas negara-negara di dunia juga masih lebih rendah ketimbang suku bunga acuan BI.  Saat ini, suku bunga AS berkisar 0,25% hingga 0,5%, Eropa 0%, bahkan Jepang minus 0,1%. “Wajar jika penawaran yang masuk tinggi atau terjadi kelebihan penawaran (oversubscribe) hingga 3,43 kali,” imbuh Beben.

Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, bilang, imbal hasil yang ditawarkan USD Bond anyar ini terbilang wajar, sekitar 200 bps hingga 220 bps di atas yield US Treasury dengan tenor serupa.

Kata Handy, setidaknya ada dua faktor yang mendorong besarnya minat investor.

Pertama, membaiknya pertumbuhan ekonomi, current account deficit (CAD), dan cadangan devisa kita.

Kedua, Program Amnesti Pajak menuai sukses.

Ketiga, inflasi yang masih terkendali dan sesuai target BI yakni 3%–5%. “Permintaan bagus. Ini mengindikasikan asing masih melihat positif ke Indonesia