PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 02/08/16 – Harga minyak mentah melonjak di sesi Asia pada hari Jumat dengan investor memantau perkembangan apapun dalam rencana produsen utama bertemu di akhir bulan ini untuk membahas pembekuan produksi dan mengamati cermat angka pengeboran AS.

Pekan lalu, kata penyedia jasa ladang minyak Baker Hughes jumlah pengeboran minyak di AS tidak berubah pada 406. Hal itu merupakan peningkatan delapan minggu berturut-turut.

Minyak mentah untuk pengiriman Oktober di Bursa Perdagangan New York melonjak 0,90% menjadi $43,55 per barel.

Semalam, harga minyak jatuh ke level terendah tiga minggu baru dalam dua hari berturut-turut, memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya setelah data pesimis Badan Administrasi Informasi Energi AS menggarisbawahi kekhawatiran atas melimpahnya pasokan global.

Sehari sebelumnya, minyak berjangka New York diperdagangkan merosot $1,65, atau 3,56%, setelah data pasokan mingguan menunjukkan terciptanya kejutan besar di minyak mentah dan stok minyak sulingan AS serta pelemahan lebih kecil dari yang diperkirakan dalam bensin.

Menurut Badan Administrasi Informasi Energi AS, persediaan minyak mentah naik 2,3 juta barel menjadi 525.9 juta, yang EIA anggap “tingkat historis tertinggi sepanjang tahun ini”

Dalam persediaan distilat termasuk diesel, EIA melaporkan peningkatan sebesar 1.496 juta barel. Laporan ini juga menunjukkan bahwa persediaan bensin menurun 691.000 barel, mengecewakan harapan untuk penurunan 1.157 juta barel.

Sementara itu, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November merosot 63 sen, atau 1,34%, diperdagangkan pada $46,26 per barel setelah menyentuh $46,08 sebelumnya, juga level terlemah sejak 12 Agustus.

Kemungkinan minimal bahwa pertemuan mendatang antara produsen minyak utama di akhir September akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi banjirnya pasokan global setelah Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa dia tidak percaya “intervensi signifikan” apapun di pasar minyak yang diperlukan.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik dalam menggabungkan konsensus