PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 19/09/16 – Harga minyak mentah naik tajam pada awal Asia, Senin (19/9) dalam rebound dari data buruk di pekan lalu dan pasar keuangan di Tokyo ditutup untuk libur.

Di Bursa Perdagangan New York, minyak mentah untuk pengiriman Oktober melonjak 1,44% menjadi $44,25 per barel.

Minggu lalu, minyak berjangka turun tajam pada hari Jumat. Harga minyak mentah AS menyentuh terendah lebih dari lima minggu akibat tanda-tanda pemulihan yang sedang berlangsung dalam kegiatan pengeboran AS dikombinasikan dengan meningkatnya ekspor dari OPEC, menambah kekhawatiran atas melimpahnya pasokan global.

Pelaku pasar terus fokus prospek pengeboran AS, di tengah indikasi pemulihan kegiatan pengeboran minyak yang baru-baru ini terjadi. Penyedia jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan Jumat malam bahwa jumlah pengeboran minyak di AS pekan lalu naik 2 menjadi 416, menandai peningkatan 11 kalinya dalam 12 minggu.

Hal itu terjadi setelah data pemerintah yang diterbitkan pada hari Rabu menunjukkan peningkatan mingguan besar dalam produk minyak bumi AS.

Menurut Badan Administrasi Informasi Energi AS, persediaan sulingan termasuk diesel, meningkat sebesar 4,619 juta barel di pekan lalu, jauh lebih tinggi dari ekspektasi kenaikan sebesar 1,543 juta barel.

Hasil tersebut merupakan peningkatan mingguan terbesar sejak Januari dan menempatkan stok sulingan dalam enam tahun musiman tertinggi.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa persediaan bensin naik 567.000 barel, mengecewakan harapan penurunan 343.000 barel.

Di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November merosot 82 sen, atau 1,76%, pada hari Jumat untuk menetap di $45,77 per barel pada penutupan perdagangan. Kontrak tersebut merosot ke $45,48 sebelumnya, terendah sejak 2 September.

Di tempat lain, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November merosot 82 sen, atau 1,76%, pada hari Jumat untuk menetap di $45,77 per barel pada penutupan perdagangan. Kontrak tersebut merosot ke $45,48 sebelumnya, terendah sejak 2 September.

Pembengkakan ekspor Iran diperkuat lebih lanjut oleh kekhawatiran melimpahnya pasokan global. Produsen OPEC terbesar ketiga itu menaikkan ekspor minyak mentah ke angka lebih dari 2 juta barel per hari pada bulan Agustus, mendekati level sebelum sanksi.

Perhatian sekarang bergeser ke pertemuan yang akan datang antara produsen minyak utama pada bulan September untuk membahas pembekuan produksi.

Anggota OPEC, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan eksportir minyak mentah Timur Tengah besar lainnya, akan bertemu produsen non-OPEC yang dipimpin oleh Rusia pada pembicaraan informal di Aljazair antara 26 dan 28 September. Menurut para ahli pasar, kemungkinan bahwa pertemuan itu akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi banjirnya pasokan global kemungkinan minimal. Sebaliknya, kebanyakan percaya bahwa produsen minyak akan terus memantau pasar dan mungkin akan menunda pembicaraan pembekuan di pertemuan resmi OPEC di Wina pada 30 November.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi di awal tahun ini telah gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran untuk mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan dalam persaingan politik untuk menggabungkan konsensus.