KPF BALI 10/06/16 – Minyak turun dari level 10 bulan tertinggi di New York seiring penguatan dolar menghentikan reli yang didorong oleh berkurangnya stok global.

Berjangka turun 1,3 persen seiring pelemahan pada ekuitas global dan mata uang AS menguat terhadap rekan-rekannya, membuat komoditas menjadi kurang menarik sebagai investasi. Minyak mentah telah menetap di level tertinggi sejak 15 Juli pada hari Rabu, setelah pemerintah AS mengatakan stok turun sebesar 3,23 juta barel pekan lalu ke level terendah dalam dua bulan.

Minyak telah melonjak lebih dari 90 persen dari level terendah 12-tahun pada bulan Februari di tengah gangguan tak terduga stok global dan penurunan dalam output AS, yang berada di bawah tekanan dari kebijakan Organisasi Negara Pengekspor Minyak yang memompa tanpa batas. Serangan-serangan gerilyawan menganggu produksi di Nigeria, sementara perusahaan minyak di Kanada sebelumnya menghentikan operasi di fasilitas yang terancam oleh kebakaran hutan.

West Texas Intermediate untuk pengiriman Juli turun 67 sen untuk menetap di level $ 50,56 per barel di New York Mercantile Exchange. Berjangka naik 1,7 persen dan menetap di level $ 51,23 pada hari Rabu. Total volume yang diperdagangkan yakni sekitar 6 persen di bawah 100-hari rata-rata.

Brent untuk pengiriman Agustus kehilangan 56 sen, atau 1,1 persen, ke level $ 51,95 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Brent bertambah 2,1 persen ke level $ 52,51 pada hari Rabu, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak 9 Oktober Minyak patokan global ini ditutup dengan premi 73 sen untuk WTI pengiriman Agustus. (tra)

Sumber: Bloomberg