PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 26/12/2016 – Sektor perbankan masih bakal menghadapi banyak tantangan tahun depan. Rencana bank sentral Amerika Serikat (AS) menaikkan suku bunga Fed funds rate lebih agresif bisa berdampak negatif bagi sektor perbankan Indonesia.

Analis Panin Securities Frederik Rasali mengatakan, peningkatan suku bunga The Fed berpeluang mengerek yield, sehingga biaya dana alias cost of fund perbankan akan naik.

“Saya melihat tren ini akan terjadi pada BUKU 2 dan BUKU 3, dari bank-bank yang relatif belum kuat,” kata Frederik kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Sedang bank-bank besar yang memiliki modal kuat dan performa baik selama ini akan jauh lebih mudah mendapatkan dana. Fredrik melihat, tahun depan perbankan akan mengeluarkan banyak instrumen untuk mencari pendanaan, seperti medium term notes, negotiable certificate of deposit dan utang bilateral dari bank lain.

Pendapatan perbankan masih bisa tumbuh tahun depan. Tapi, Frederik mengingatkan bahwa likuiditas perbankan tahun depan juga akan ketat.

Maklumlah, saat ini loan to deposit ratio (LDR) bank masih di atas 90%. Tingkat non performing loan (NPL) atau kredit macet juga masih akan sama seperti tahun ini.

“Kemungkinan hal tersebut yang akan menjadi tantangan,” kata Fredrik.

Sedang analis BCA Sekuritas Igor Nyoman Putra juga memprediksi sektor bank tahun depan akan lebih baik dari tahun ini. Likuiditas bank di kuartal satu tahun depan akan terdorong adanya amnesti pajak.

Dana repatriasi yang sudah masuk ke Indonesia juga bisa dialihkan pada instrumen keuangan yang dikeluarkan oleh bank. Pertumbuhan perbankan juga didukung peningkatan kredit seiring biaya kredit atau cost of credit (CoC) yang lebih rendah.

“Kemungkinan volume kredit bisa naik 13%, didukung naiknya harga komoditas, proyek infrastruktur, serta kredit dari properti,” kata Igor.

Selain itu, dana asing mulai masuk lagi dan ekonomi kembali tumbuh. Tingkat konsumsi masyarakat kelas menengah juga meningkat.

Analis NH Korindo Bima Setiaji mengestimasi, pada tahun ini pertumbuhan kredit bisa naik 14% dari 2015 tahun lalu, didukung oleh permintaan di segmen mikro dan retail. Tapi progam Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan tingkat suku bunga pinjaman yang dipatok rendah akan semakin menekan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) perbankan.

Kenaikan suku bunga The Fed juga menahan suku bunga deposito. Jadi bank yang kuat dalam kredit mikro, seperti BBRI, akan sulit berkembang. Bima mengestimasi NIM BBRI akan turun jadi 7,8% tahun depan dari 8,4% tahun ini.

“Kami juga melihat cadangan dana untuk kerugian pinjaman akan berkurang tahun depan,” kata Bima.

Igor merekomendasikan dua saham bank, yakni BBRI dan BMRI, dengan pertimbangan profil risiko yang lebih minim dibanding bank besar lainya. Selain itu, kedua bank tadi juga akan mendapat dorongan dari KUR yang bunganya dipotong menjadi 7% di tahun depan, dari tahun ini 9%.

Kedua bank tadi merupakan penyalur KUR terbesar dibanding bank lain. Igor memasang target harga saham BBRI di Rp 13.550 per saham dan saham BMRI Rp 12.700 tahun depan. Sedang Fredrik merekomendasikan saham BBNI dan BBTN dengan target harga masing masing Rp 6.000 dan Rp 2.300 hingga tahun depan.

Dari sisi volume, kredit BBRI kemungkinan masih bisa tumbuh tahun depan, bila melihat kinerja kredit hingga November tahun ini yang tumbuh 16%. Pendorong utama kredit BBRI adalah kredit mikro dan ritel.

Bima merekomendasikan tahan saham BBRI dengan target harga Rp 12.775 per saham hingga tahun depan. n dianggap masih menarik di potensial pada K Amerika Serikat (AS) The R yang diprediksi naik di 2017 juga positif Kota.