PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 02/07/2019 – Setelah menukik tajam, harga emas berbalik arah menguat didorong oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global yang semakin kuat.

Pada perdagangan hari Selasa (2/7/2019) pukul 10:00 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,27% ke level US$ 1.393,1/troy ounce. Adapun harga emas di pasar spot naik 0,47% menjadi US$ 1.390,6/troy ounce.
Kemarin (1/7/2019), harga emas COMEX dan Spot ditutup melemah masing-masing sebesar 1,73% dan 1,78%

Aktivitas industri di berbagai negara yang terlihat semakin buruk kembali memunculkan kekhawatiran pelambatan ekonomi global di kalangan pelaku pasar.

Di Amerika Serikat (AS) Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur bulan Juni hanya sebesar 51,7, berdasarkan rilis Institute Supply Management (IHS). Meskipun angka di atas 50 berarti masih dalam fase ekspansi, namun capaian bulan Juni merupakan yang paling rendah sejak Oktober 2016.

Kondisinya sedikit lebih buruk di China, yang mana PMI bulan Juni hanya sebesar 49,4 atau paling kecil sejak Januari 2019. Bahkan aktivitas industri China tengah mengalami kontraksi.

Negeri Sakura pun juga bernasib serupa. Pembacaan awal PMI manufaktur bulan Juni versi Nikkei yang sebesar 49,5 telah direvisi menjadi 49,9 dan menandakan kontraksi paling parah dalam 3 bulan terakhir.

Data yang terpisah menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Jepang bulan Juni berada di level 38,7 atau merupakan yang paling rendah sejak November 2014. Indeks tersebut mencerminkan pesimisme konsumen akan perekonomian Jepang ke depan, dan membuat bank sentral (Bank of Japan/BOJ) semakin terdesak untuk memberi stimulus moneter untuk menggenjot perekonomian.

Dari Korea Selatan, PMI manufaktur bulan Juni jatuh ke posisi 47,5 dari 48,4 di bulan sebelumnya. Nikkei menyebutkan bahwa penurunan angka PMI tersebut merupakan yang paling tajam dalam empat bulan terakhir. Sementara posisi bulan Juni merupakan kontraksi paling parah sejak Juni 2015.

Sederet data tersebut membuat risiko perekonomian global kembali meningkat. Dampak dari perang dagang Amerika Serikat (AS)-China yang telah tereskalasi satu kali di bulan Mei mulai menampakkan wujudnya.

Sebagai informasi, pada bulan Mei pemerintah AS resmi menaikkan bea impor menjadi 25% (dari 10%) terhadap produk asal China senilai US$ 200 miliar. China membalas dengan memberi tarif tambahan antara 5-25% atas produk AS senilai US$ 60 miliar.

Meskipun kini AS dan China sepakat untuk melakukan ‘gencatan senjata’, perlambatan ekonomi global tidak terhenti begitu saja. Masih ada risiko perekonomian tenggelam lebih dalam lagi.

Dalam kondisi yang tak pasti, investasi menjadi sangat berisiko. Investor pun ogah untuk agresif masuk ke instrumen-instrumen berisiko. Emas sebagai salah satu instrumen pelindung nilai pun masih mendapat kan tempat di hati para pelaku pasar.

Smber : cnbcnews