PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 10/08/2020 – Saat kondisi ekonomi global goyah, nyatanya emas bukan satu-satunya logam mulia yang berkilau sendiri. Dibandingkan emas, perak malah lebih kinclong karena cuan yang diberikan jauh lebih banyak dari emas.

Era kejayaan emas dimulai ketika duo raksasa ekonomi global terlibat dalam duel dagang. Amerika Serikat (AS) sebagai Negeri Adikuasa mulai menabuh genderang perang dagang dengan mitranya, China pada 2018.

Tak terima atas penerapan bea masuk produk impor asal China yang nilainya ratusan miliar dolar AS, Negeri Tirai Bambu melakukan aksi yang sama sebagai balasan (retaliasi).

Apabila jangka waktunya ditarik lebih panjang ke belakang, setidaknya dalam dua tahun terakhir, kenaikan harga perak juga masih mengungguli emas. Sejak 2018, harga perak telah naik dengan sangat signifikan, apresiasinya mencapai 83,4%.  Artinya dalam dua tahun, keuntungan perak itu setara dengan 1,2x cuan emas dan 4,6x dari saham.

Hari ini harga emas dan perak kompak terkoreksi. Namun analis dan pelaku pasar masih bullish memandang prospek emas dan logam mulia ke depannya. Koreksi yang terjadi hari ini merupakan hal yang wajar.

Setidaknya dalam waktu dekat, emas diramal masih bisa melesat ke level psikologis US$ 2.100/troy ons. Setelah itu ada level US$ 2.200 dan US$ 2.400 yang menanti. Kenaikan harga emas ini tentunya membuat harga perak juga ikut bergairah.

Justru momentum koreksi seperti sekarang ini banyak dimanfaatkan orang untuk melakukan aksi beli. Namun ada beberapa faktor yang juga berpotensi membuat harga logam mulia berbalik arah yaitu membaiknya ekonomi global hingga penemuan vaksin Covid-19.

Smber : cnbcnews