PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 12/11/2020 – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan bijih emas dan perak yang diproduksi dari tambang dalam negeri akan menurun setelah 2021 hingga setidaknya 2024.

Produksi bijih emas dan perak diperkirakan mencapai puncak pada 2021 mendatang sebanyak 25,40 juta ton, naik dari tahun ini yang diperkirakan mencapai 21,69 juta ton. Namun mulai 2022 produksi bijih emas dan perak akan turun menjadi 19,35 juta ton, lalu turun lagi menjadi 17,69 juta ton pada 2023, dan pada 2024 hanya 17,20 juta ton.

Hal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024 yang ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 18 September 2020 dan berlaku sejak diundangkan pada 25 September 2020.

Menurunnya bijih emas dan perak yang diproduksi juga berdampak pada penurunan bijih yang diolah di dalam negeri mulai 2022. Pengolahan bijih emas dan perak juga mencapai jumlah tertinggi pada 2021 mencapai 20,46 juta ton atau mencapai 80% dari bijih yang diproduksi di tambang dalam negeri. Jumlah bijih yang diolah pada 2021 itu naik dari 2020 yang diperkirakan mencapai 17,76 juta ton.

Namun pada 2022 bijih emas dan perak yang diolah di dalam negeri turun menjadi 16,38 juta ton, lalu turun lagi menjadi 14,75 juta ton pada 2023, dan 14,37 juta ton pada 2024.

Adapun rasio antara bijih yang diolah di dalam negeri terhadap total bijih yang diproduksi dari tambang dalam negeri stabil di angka 80%.

Angka-angka tersebut merupakan indikator dalam rangka mengukur optimalnya ketersediaan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan industri turunan lainnya.

“Rasio jumlah mineral untuk diproses dalam negeri terhadap produksi untuk mengukur seberapa besar mineral yang dapat diolah di dalam negeri dalam rangka peningkatan nilai tambah dibandingkan dengan total produksi dari jenis mineral tersebut,” kata Peraturan Menteri ESDM tersebut.

Utilisasi fasilitas pengolahan/ pemurnian masing-masing mineral logam seperti emas pada 2020-2022 diperkirakan masih sekitar 35%, lalu mulai 2023-2024 diperkirakan hanya naik 5% menjadi 40%. Sementara perak sudah mencapai 60% pada 2020-2022 dan naik hanya 2% menjadi 62% pada 2023-2024.

Adapun utilisasi kapasitas smelter atau fasilitas pengolahan/ pemurnian itu untuk mengukur perbandingan jumlah mineral yang diolah dengan kapasitas maksimum smelter.

Hal ini untuk menilai komitmen badan usaha yang tidak hanya memenuhi kewajiban dalam membangun smelter dengan kapasitas yang ditetapkan, namun
memegang komitmen penuh untuk dapat mengolah mineral, sehingga meningkatkan nilai tambah baik dalam bentuk produk serta pemanfaatan industri dalam negeri.

Bijih emas yang diolah akan menjadi produk logam mulia, dan bjih perak akan menjadi logam murni perak.

Dengan menurunnya jumlah bijih emas yang diolah di dalam negeri, ini berpotensi akan meningkatkan impor emas, karena permintaan emas yang akan semakin meningkat setiap tahunnya.

Salah satu perusahaan yang melakukan pengolahan dan pemurnian bijih emas yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Beberapa waktu lalu Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengungkapkan selama ini PT Aneka Tambang Tbk sebagai BUMN tambang emas dan juga niaga emas, masih emngimpor emas karena permintaan emas dari masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan produksi yang dihasilkan perseroan.

Bila dilihat dari sisi volume produksi emas, pada semester I 2020, produksi emas Antam hanya 850 kg (27.328 troy onz), turun dibandingkan semester I 2019 yang sebesar 979 kg (31.476 troy oz).

Sementara penjualan emas mencapai 7.915 kg (254.505 troy oz) pada semester I 2020, turun dibandingkan penjualan pada semester I 2019 yang mencapai 15.741 kg (506.084 troy oz)

Ini artinya, ada selisih sekitar 7.000-an kg antara emas yang dijual dan diproduksi Antam, dan kemungkinan besar selisih inilah yang diimpor perseroan. Smber : cnbcnews