PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 26/08/2020 – Harga emas dunia kembali melemah sejak Senin kemarin, melanjutkan kinerja negatif dalam 2 pekan terakhir. Pada perdagangan hari ini, emas melemah 0,29% ke US$ 1.926,77/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Sementara kemarin, logam mulia ini melemah 0,36% dan dalam 2 pekan sebelumnya total pelemahan sebesar 4,86%.

Sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa US$ 2.072,49/troy ons pada 7 Agustus lalu, harga emas mulai merosot. Sempat menguat lagi ke atas US$ US$ 2.000/troy ons pada 18 Agustus lalu, tetapi “dibanting” turun lagi.

Fakta emas terlihat kesulitan kembali ke atas US$ 2.000/troy ons membuatnya diramal memasuki fase konsolidasi, alias bergerak bolak balik dalam suatu rentang tertentu. Bahkan penurunan harga emas diramal masih bisa berlanjut lagi.

Analis dari TD Securities, Daniel Ghali, melihat penurunan harga emas akan mencapai 17% atau sekitar US$ 300, melihat momentum penguatan emas mulai memudar. Jangan syok dulu melihat harga emas merosot hingga 17%, sebab berkaca dari sejarah 2011 ketika emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa dan kesulitan kembali menguat harganya akhirnya ambles lebih dari 45%. Pada 6 September 2011, harga emas dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920.3/troy ons, sebelum kembali pecah pada hari ini.

Kabar buruknya hari itu juga emas langsung ambrol, dan terus berlanjut hingga menyentuh level US$ 1,534,49/troy ons pada 26 September, atau minus 20,09%. Setelahnya emas memang bangkit kembali tetapi tidak pernah mampu kembali ke atas US$ 1.800/troy ons.

Pergerakan emas tersebut mirip dengan tahun ini, sejak mencapai rekor tertinggi US$ 2.072,49/troy ons, emas langsung balik merosot. 3 hari setelahnya, emas menyentuh level US$ 1.863,66, ambles lebih dari 10%. Balik lagi ke tahun 2011, setelah gagal kembali ke atas US$ 1.800/troy ons, emas akhirnya memulai tren penurunan sejak Oktober 2012. Dalam tren penurunan tersebut, titik terendah yang dicapai yakni US$ 1.045,85/troy ons pada 3 Desember 2015.

Artinya, jika dilihat dari rekor tertinggi hingga ke level terendah tersebut, harga emas dunia ambrol 45,54% dalam tempo 4 tahun. Jika sejarah tersebut berulang, setidaknya pergerakan saat ini sudah sangat mirip, emas hingga saat ini belum mampu kembali ke atas US$ 2.000/troy ons. Sehingga ada risiko amblesnya harga emas di depan mata.

Kondisi perekonomian AS serta kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menjadi “aktor” utama dibalik pergerakan emas ke rekor tertinggi sepanjang masa, dan juga yang akan memicu kemerosotan, baik itu dulu maupun sekarang.

Di tahun 2008, Amerika Serikat mengalami resesi, yang memicu krisis finansial global. Guna membangkitkan perekonomian, The Fed memangkas suku bunga hingga 0,25%, dan menggelontorkan stimulus moneter dengan program pembelian aset (obligasi pemerintah dan surat berharga lainnya) atau yang dikenal dengan istilah quantitative easing (QE).

Saat itu, QE dilakukan dalam 3 periode. QE 1 dilakukan mulai November 2008, kemudian QE 2 mulai November 2010, dan QE 3 pada September 2012.
Emas dunia mencapai periode kejayaannya saat QE 2 berlangsung. Sementara masa kemerosotan dimulai tepat sebulan setelah QE 3 dimulai. Sebabnya, perekonomian Amerika Serikat yang mulai membaik, dan ada isu jika QE akan segera dihentikan dalam waktu dekat.

Pada pertengahan tahun 2013 The Fed yang saat itu dipimpin Ben Bernanke akhirnya mengeluarkan wacana untuk mengurangi (tapering) QE. Sah, masa kejayaan emas berakhir, baru sebatas wacana saja harga emas langsung merosot tajam.

Saat wacana tersebut muncul dolar AS menjadi begitu perkasa, hingga ada istilah “taper tantrum“. Maklum saja, sejak diterapkan suku bunga rendah serta QE, nilai tukar dolar AS terus merosot. Sehingga saat muncul wacana pengurangan QE hingga akhirnya dihentikan dolar AS langsung mengamuk, “taper tantrum“, mata uang lainnya dibuat rontok oleh the greenback. Penguatan dolar tersebut menambah pukulan bagi emas.

“Bahan bakar” emas untuk menguat, resesi, suku bunga rendah dan QE, serta pelemahan dolar AS satu per satu per satu mulai hilang. Perekonomian AS membaik, QE dihentikan pada pertengahan 2014, suku bunga dinaikkan pada Desember 2015, dan dolar AS menguat, emas pun terpukul hebat.

Situasi saat itu sangat mirip dengan tahun ini, AS resesi, The Fed menerapkan suku bunga rendah dan QE, dolar AS pun ambrol belakangan ini. Seandainya situasi mulai berbalik (ada tanda-tanda ekonomi AS bangkit) maka patut bersiap melihat harga emas menukik dari angkasa untuk kedua kalinya, mengulang sejarah pasca 2011.

Satu hal yang membedakan kondisi 2008 dan 2020 adalah pemicu resesi saat ini adalah pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Oleh karena itu, nasib emas saat ini akan ditentukan si virus corona, apakah berhasil diredam, ataukah akhirnya vaksin ditemukan sehingga semua perlahan kembali normal, atau malah semakin mengganas yang dapat memicu resesi panjang.

Jika virus corona berhasil diredam bahkan dilenyapkan, perekonomian AS dan global tentunya perlahan akan bangkit. Sama seperti sebelumnya, The Fed tentunya perlahan akan mengurangi QE hingga akhirnya dihentikan, dan selanjutnya suku bunga akan dinaikkan. Maka Bersiap, risiko kemerosotan emas bisa terulang lagi.

Tetapi sebaliknya, jika virus corona masih “menghantui” dunia hingga tahun depan, harga emas dunia berpotensi kembali terbang tinggi, sebab QE kemungkinan akan dipertahankan dalam waktu yang panjang. Smber :  cnbc