PT KONTAKPRKASA FUTURES BALI 17/04/2020 – Harga emas di pasar spot sedikit terkoreksi pagi ini. Namun prospek penguatan harga emas ke depan masih terjaga, sehingga untuk sementara harga emas masih kokoh bertengger di rentang level tertingginya dalam 7 tahun.

Pada Jumat (17/4/2020), harga emas dunia di pasar spot turun tipis, bahkan nyaris flat. Pada 07.51 WIB, logam mulia emas dibanderol US$ 1.716,71/troy ons atau melemah 0,06%, mengacu data Refinitiv.

Harga emas cenderung reli setelah gelombang stimulus jumbo digelontorkan berbagai negara di dunia, terutama Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Maret lalu.

Dimulai dari kebijakan bank sentral Negeri Paman Sam (The Fed) yang agresif membabat habis suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) menjadi 0-0,25%, hingga program pembelian aset-aset keuangan seperti obligasi pemerintah hingga korporasi (QE) bernilai tak terbatas.

The Fed yang sekarang sangatlah agresif, Jerome Powell dan rekannya melakukan hal apa pun untuk menyelamatkan perekonomian AS yang berada di ambang resesi. Pada akhir pekan Maret The Fed mengumumkan akan memberikan pinjaman lunak untuk UKM di AS senilai US$ 2,3 miliar.

Stimulus jumbo juga digelontorkan oleh pemerintahan Donald Trump. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, AS meloloskan Undang-Undang Paket Stimulus Ekonomi Jumbo senilai US$ 2,2 triliun untuk membantu meredam dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi corona.

“Cerita utama untuk saat ini adalah emas terus mendapat dukungan di lingkungan yang dipenuhi dengan kebijakan longgar dari bank sentral dan stimulus fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintah di seluruh dunia,” kata David Meger, direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, melansir Reuters.

Masih adanya kekhawatiran akan resesi global yang akan terjadi membuat emas masjh dilirik. Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan bahwa perekonomian global diramal terkontraksi 3% tahun ini.

Ancaman resesi global yang akan dihadapi tahun ini bahkan dinilai lebih besar dari resesi mana pun yang pernah terjadi sejak The Great Depression. Tanda-tanda kejatuhan ekonomi memang sudah tampak terlihat.

Indikator terbarunya adalah peningkatan angka pengangguran. DI AS sendiri, data resmi pemerintah menunjukkan pekan lalu ada 5,2 juta orang yang melakukan klaim tunjangan pengangguran. Setidaknya hingga sampai saat ini sudah ada 20 juta orang di AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran tersebut.

“Ketidakpastian di sektor kesehatan, keuangan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19 dan dampaknya kemungkinan akan terus mendukung reli emas hingga tahun 2021,” James Steel, Kepala Analis Logam Mulia di HSBC mengatakan dalam sebuah catatan, sebagaimana diwartakan Reuters.

“Kami percaya tingkat suku bunga yang rendah, akomodasi moneter serta stimulus fiskal di seluruh dunia untuk masa yang akan datang akan menguatkan dan memperpanjang reli [harga] emas, mengingat investor masih berburu emas untuk karakteristik hard asset dan likuiditasnya.” Tambahnya. Smber :  cnbcnews