PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 23/08/2019 – Harga emas global kembali terkoreksi seiring penantian pelaku pasar akan pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Jerome Powell, dalam simposium Jackson Hole pada hari Jumat (23/8/2019) pagi waktu setempat atau malam hari waktu Indonesia.

Sementara itu keyakinan investor akan era penurunan suku bunga acuan di AS agak menipis akibat sikap pejabat The Fed yang terkesan hawkish.

Pada perdagangan hari Jumat (23/8/2019) pukul 08:30 WIB harga emas kontrak pengiriman Desember di bursa New York Commodities Exchange (COMEX) turun 0,13% ke posisi US$ 1.506,6/troy ounce (Rp 678.212/gram).

Adapun harga emas di pasar spot melemah 0,12% menjadi US$ 1.496,78/troy ounce (Rp 673.791/gram).

Di sesi perdagangan

hari sebelumnya (22/8/2019) harga emas COMEX dan spot juga terkoreksi masing-masing sebesar 0,48% dan 0,23%.
Malam hari tadi, Presiden The Fed Philadelphia, Patrick Harker, mengungkapkan pandangannya terhadap kebijakan moneter yang seharusnya diambil oleh bank sentral.

“Kami secara garis besar berada di posisi netral. Memang sulit untuk mengetahui dimana persisnya posisi netral tersebut, namun saya pikir kondisi sekarang itulah posisi netral. Dan saya pikir kita harus tetap berada di sini untuk sementara dan melihat perkembangan ke depan,” ujar Harker dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Kamis (22/8/2019).

Komentar tersebut seakan mengatakan bahwa The Fed belum perlu untuk segera memberi stimulus baru pada perekonomian AS. Itu berarti peluang untuk penurunan suku bunga yang agresif agak pudar.

Mengutip CME Fedwatch, probabilitas The Fed menurunkan suku bunga sebanyak 3 kali lagi (75 basis poin) hingga akhir tahun 2019 telah susut menjadi 28,7%. Padahal pada hari Rabu (21/8/2019) probabilitas tersebut masih sebesar 42,5%.

Sementara probabilitas suku bunga diturunkan sebanyak 2 kali lagi (50 basis poin) hingga akhir tahun 2019 sebesar 48,3%, naik tipis dari posisi hari Rabu yang sebesar 45,1%.

Menariknya, probabilitas suku bunga acuan The Fed diturunkan hanya 1 kali lagi (25 basis poin) hingga akhir tahun 2019 melonjak menjadi 21,8% dari 11,8% di hari Rabu. Hal ini menandakan harapan pelaku pasar akan era pemangkasan suku bunga acuan The Fed sudah mulai surut.

Sebelumnya pelaku pasar sempat yakin bahwa pemangkasan suku bunga bisa sangat agresif, mengingat adanya risiko resesi pada perekonomian AS. Smber : cnbcnews