PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 04/07/2019 – Harga emas masih terus merangkak naik seiring meningkatnya harapan akan pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed. Sinyal-sinyal perlambatan ekonomi global yang masih terus muncul juga memberi sentimen positif bagi harga emas.

Pada perdagangan hari Kamis (4/7/2019) pukul 09:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,23% ke level US$ 1.424,2/troy ounce. Sedangkan harga emas di pasar spot naik 0,13% menjadi US$ 1.420,4/troy ounce.

 

Harga emas masih mendapat energi positif dari harapan pemangkasan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.
Harapan tersebut kian membuncah setelah rilis beberapa data indikator ekonomi Negeri Paman Sam yang mengecewakan.

Salah satunya adalah angka penciptaan lapangan kerja non-pertanian AS periode Juni 2019 yang hanya sebanyak 102.000 saja. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan konsensus pasar yang sebanyak 140.000, dikutip dari Forex Factory.
Kondisi tenaga kerja merupakan salah satu indikator yang digunakan oleh The Fed untuk menentukan kebijakan suku bunga acuan.
Kala kondisi tenaga kerja sedang tidak bagus, stimulus moneter menjadi kebijakan yang paling masuk akal. Salah satu instrumen yang bisa digunakan oleh The Fed untuk memberi dorongan pada ekonomi AS adalah suku bunga acuan.

Kala suku bunga acuan turun, maka likuiditas akan membanjiri pasar. Ekonomi bisa lebih bergairah dan menyerap banyak tenaga kerja.

Untuk emas, penurunan suku bunga The Fed akan membawa berkah karena dolar kemungkinan besar akan melemah. Pelemahan dolar akan disebabkan oleh meningkatnya likuiditas di pasar. Semakin banyak dolar beredar, tentu saja nilai tukarnya akan melemah.

Kala dolar melemah, emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Sebab, hingga saat ini transaksi emas di pasar global masih menggunakan dolar.

Selain itu investor juga punya risiko koreksi nilai saat dolar melemah. Tentu bukan hal yang bagus.

Alhasil investor masih menaruh minat pada emas yang seringkali dijadikan instrumen pelindung nilai (hedging). Maklum, fluktuasi harga emas relatif lebih terbatas ketimbang instrumen lainnya.

Selain itu sinyal-sinyal perlambatan ekonomi yang masih terus muncul juga memberi tarikan ke atas pada harga emas.

Terbaru, neraca dagang AS ada bulan Mei mengalami pembengkakan defisit menjadi US$ 55,5 miliar. Capaian tersebut merupakan yang paling buruk dalam lima tahun terakhir.

Penyebabnya adalah pertumbuhan ekspor yang terbatas akibat adanya perang dagang dengan China.

Merespon data tersebut, prediksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2019 versi The Fed Atlanta turun menjadi 1,3% (quarterly annualized) pada hari Rabu (3/7/2019) waktu setempat. Padahal di hari Senin (1/7/2019) proyeksinya masih sebesar 1,5%.

Perlambatan ekonomi tentu bukan kondisi yang baik untuk berinvestasi dengan agresif. Hal itu juga telah diketahui oleh kebanyakan investor.

Alhasil pelaku pasar masih ingin main aman saja. Lagi-lagi, emas semakin berkilau.

smber : cnbcnews