PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 28/04/2020 –  seiring dengan aksi ambil untung investor. Selain itu, membaiknya sentimen seputar perkembangan obat corona juga memicu risk appetite pelaku pasar kembali. Namun seperti biasa, usai terpelanting harga emas mencoba bangkit.

Jumat (1/5/2020) harga emas di pasar spot dibanderol US$ 1.684,34/troy ons. Harga logam mulia ini menguat 0,25% dibanding posisi penutupan kemarin. Pada penutupan perdagangan spot kemarin harga emas ambles 1,82% keluar dari level psikologis US$ 1.700/troy ons ke US$ 1.680,09/troy ons.

Sentimen global memang sedang baik mengingat salah satu kandidat obat untuk Covid-19 menunjukkan hasil yang menjanjikan saat diuji klinis. Remdesivir produksi Gilead Science dikatakan mampu membuat kondisi pasien penderita Covid-19 membaik.

CNBC Internasional melaporkan Gilead melakukan uji klinis terhadap 397 pasien penderita parah Covid-19. Kemudian pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama diberi obat remdesivir selama 5 hari sementara yang lain diberi remdesivir untuk 10 hari.

Hasilnya, lebih dari setengah pasien yang dirawat diperbolehkan pulang dalam waktu 14 hari. Sebanyak 64,5% pasien dari kelompok pertama yang mendapatkan remdesivir dalam waktu yang lebih singkat dan 53,8% dari kelompok kedua sudah diizinkan untuk pulang.

“Data ini menggembirakan karena menunjukkan bahwa pasien yang menerima remdesivir yang lebih pendek jangka waktunya yakni lima hari mengalami peningkatan klinis yang serupa dengan pasien yang menerima pengobatan 10 hari,” kata Aruna Subramanian, pemimpin peneliti dalam uji klinis tersebut, sebagaimana diwartakan CNBC International.

 

Sentimen positif lain yang juga menjadi pemberat untuk harga emas adalah rencana dicabutnya lockdown di berbagai negara terutama di kawasan Benua Biru. Sudah banyak negara Eropa seperti Spanyol, Jerman hingga Swiss mulai melonggarkan pembatasan sosialnya seiring dengan penurunan jumlah kasus per harinya.

Jika pertambahan kasus baru Covid-19 di berbagai negara di Eropa terus melanjutkan tren penurunannya, maka berbagai pelonggaran dari pembatasan akan terus dilakukan hingga ujung-ujungnya lockdown dicabut. Selama ini lockdown adalah pemicu dari goyahnya ekonomi global. Ketika dicabut, ada harapan ekonomi akan bersemi kembali.

Emas merupakan aset safe haven yang diburu oleh investor kala kondisi perekonomian sedang tidak kondusif, seperti sekarang ini contohnya saat ekonomi global sedang diterpa badai pandemi.

Namun dua berita baik yang datang dari perkembangan obat Covid-19 serta rencana pencabutan lockdown membuat selera terhadap risiko pelaku pasar berangsur pulih dan investor akhirnya tergoda mencairkan cuan-nya dari investasinya di logam mulia.

“Terjadi likuidasi emas kemungkinan dikarenakan kekecewaan harga [emas] tidak bergerak lebih tinggi lagi … Jika titik support kunci US$ 1.662 dapat ditembus, maka harga [emas] akan semakin turun,” kata Edward Meir, analis di ED&F Man Capital Markets, sebagaimana diberitakan CNBC International.

“Kekhawatiran tentang virus tampaknya sedikit surut karena mulai banyak negara membuka dan melonggarkan pembatasannya. Tidak ada banyak peralihan ke aset-aset yang aman seperti yang kita lihat beberapa minggu lalu.” tambahnya.

Walau investor pada akhirnya memilih untuk mencairkan cuan, harga emas sejatinya masih punya ruang untuk menguat kembali di tengah gelombang stimulus fiskal dan kelonggaran moneter yang diberikan pemerintah dan bank sentral.

Bank sentral AS, The Fed berjanji akan tetap menjaga suku bunga acuan di kisaran 0-0,25%. Setelah merampungkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama 2 hari, The Fed menyatakan suku bunga akan tetap 0-0,25% selama diperlukan untuk mencapai full employment dan inflasi kembali ke target 2%.

“Kami tidak akan terburu-buru untuk normalisasi suku bunga dan kebijakan moneter lainnya. Kami akan menunggu sampai kami yakin perekonomian berada di jalur pemulihan yang benar” kata Ketua The Fed, Jerome Powell.

The Fed selain membabat habis suku bunya menjadi 0-0,25% di bulan Maret lalu, juga menggelontorkan stimulus senilai US$ 2,3 triliun, termasuk di dalamnya program pinjaman yang disebut Main Street senilai US$ 600 miliar untuk perusahaan dengan karyawan mencapai 10.000 orang atau maksimal penjualan 2,5 miliar di tahun 2019.

Stimulus besar-besaran itu digelontorkan bukan tanpa sebab. Akibat merebaknya pandemi Covid-19, ekonomi AS sedang mengalami turbulensi hebat. Pada kuartal I saja ekonomi Negeri Peman Sam terkontraksi 4,8% (annualized). Ini merupakan kontraksi terdalam sejak krisis keuangan global 2008 dan menjadi kontraksi pertama sejak 2014.