PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 06/09/2019 – Harga emas anjlok tajam pada perdagangan Kamis (5/9/19) kemarin hingga menyentuh level terlemah sejak 23 Agustus. Banyaknya kabar bagus, ditambah dengan data ekonomi AS yang cukup bagus memberikan tekanan ganda bagi logam mulia hingga turun lebih dari 2%. Kamis kemarin.

Meredanya tensi geopolitik di Hong Kong, Italia, dan Inggris membuat sentimen pelaku pasar membaik, bursa saham menguat dan aset aman (safe haven) seperti emas mengalami tekanan.

Stabilnya kondisi Hong Kong usai demo yang berujung ricuh selama berminggu-minggu, terbentuknya koalisi pemerintahan di Italia, serta potensi terjadinya no-deal Brexit yang semakin menipis merupakan faktor dari sisi politik yang membuat sentimen pelaku pasar membaik.

Kabar paling bagus yang membuat sentimen pelaku pasar “berbunga-bunga”  datang dari AS dan China. Kedua negara siap kembali ke meja perundingan dagang di bulan Oktober. Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa delegasi kedua negara melakukan perbincangan via sambungan telepon pada pagi hari ini

Perbincangan via sambungan telepon ini melibatkan berbagai tokoh penting seperti Wakil Perdana Menteri China Liu He, Gubernur Bank Sentral China Yi Gang, Kepala Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, serta Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.

Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Perdagangan China, kedua belah pihak akan menggelar konsultasi pada pertengahan bulan ini sebagai bagian dari persiapan negosiasi tatap muka di awal bulan depan.

Berkurangnya tekanan politik global membuat emas terus tertekan, dan momentum penurunan bertambah setelah Automatic Data Processing Inc (ADP) melaporkan sepanjang bulan Agustus perekonomian AS mampu menyerap 195.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian, jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya 142.000 tenaga kerja.

Data ADP kerap dijadikan acuan data penyerapan tenaga kerja (non-farm payroll/NFP) yang akan dirilis pemerintah AS malam ini. Selain NFP data lain yang dirilis di saat bersamaan dan menjadi satu paket data tenaga kerja adalah data rata-rata upah per jam serta tingkat pengangguran.

Data tenaga kerja tersebut merupakan salah satu acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dalam menetapkan suku bunga. Rilis data yang lebih bagus tentunya memicu spekulasi The Fed tidak akan agresif dalam memangkas suku bunga, dan emas berpotensi melanjutkan pelemahan lagi hari ini.

Sebaliknya jika data tersebut dirilis lebih buruk dari prediksi, maka emas bisa melesat naik kembali.

Smber : cnbcnews