PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 21/08/2019 – Harga emas dunia di pasar spot melemah pada perdagangan Rabu (21/8/19) siang setelah mencatat kenaikan Selasa kemarin. Meski melemah, logam mulia masih bertahan di atas level US$ 1.500/troy ons.

Fokus utama pelaku pasar tertuju pada bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan agresif dalam memangkas suku bunga.

Prediksi The Fed akan agresif dalam memangkas suku bunga bisa dilihat dari piranti FedWatch milik CME Group siang ini. Pelaku pasar melihat Jerome Powell dkk pasti akan memangkas suku bunga di bulan September. Piranti tersebut menunjukkan probabilitas sebesar 98,1% suku bunga akan dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 1,75%-2%.

KONTAK PERKASA

 

Bahkan jika melihat suku bunga untuk bulan Desember dalam piranti FedWatch, probabilitas suku bunga The Fed berada di level 1,25%-1,5% sebesar 50,4%. Probabilitas tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan yang lainnya, ini berarti pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga tiga kali lagi tahun ini, masing-masing 25 bps.

Berdasarkan piranti tersebut, The Fed diprediksi akan memangkas suku bunganya pada bulan September, Oktober, dan Desember. Selain itu, analis dari Bank Danske bahkan memprediksi Jerome Powell akan memangkas suku bunga lima kali sebelum April 2020.

Para analis yang dipimpin oleh Mikael Olai Milhoj kini percaya The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps dalam lima rapat kebijakan moneter ke depan, dan suku bunga akan berada di level 0,75-1% di bulan Maret 2020, sebagaimana dilansir CNBC International.

Acara tahunan Jackson Hole di AS pada Kamis pekan ini bakal memberikan gambaran apakah The Fed akan agresif atau tidak dalam memangkas suku bunga. Ketua The Fed, Jerome Powell, akan berpidato di hari Jumat, dan akan menjadi sorotan utama pelaku pasar.

“Ekspektasi pasar untuk pertemuan Jackson Hole dan komunitas bank sentral secara agregat sangat dovish. Pasar di AS bersama pasar lainnya di seluruh dunia saat ini memprediksi akan ada pelonggaran moneter yang besar” kata Brad Bechtel, direktur pelaksana Jefferies di New York, sebagaimana dilansir CNBC International.

Pemangkasan suku bunga yang agresif oleh The Fed, serta pelonggaran moneter global seharusnya menjadi sentimen yang bisa mendongkrak harga emas naik lebih lanjut. Namun nyatanya emas belum mampu melanjutkan kenaikan.

 

Sebelum pertemuan Jackson Hole, rilis notula rapat kebijakan The Fed Kamis dini hari nanti menjadi perhatian utama pelaku pasar, dan menjadi penyebab emas belum mau naik lagi.

Notula yang dirilis kali ini merupakan detail dari rapat kebijakan moneter bulan Juli saat memangkas suku bunga 25 bps, dan saat itu Pimpinan The Fed, Jerome Powell bersikap tidak terlalu dovish, dan memupus harapan akan pemangkasan suku bunga yang agresif.

Pelaku pasar ingin mencerna bagaimana suasana dan perdebatan dalam rapat tersebut. Jika para pejabat The Fed terlihat semakin lebih dovish dibandingkan dengan sang pimpinan, maka peluang pemangkasan suku bunga secara agresif akan semakin terbuka lebar, dan emas berpotensi melanjutkan penguatan. smber : cnbcnews