PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 09/06/2020 – Jelang pertemuan komite pengambil kebijakan (FOMC) bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, harga emas dunia menguat dan kini dekati lagi level psikologis US$ 1.700/troy ons.

Selasa ini (9/6/2020), harga emas dunia di pasar spot menguat 0,18%. Pada 07.25 WIB logam mulia emas ditransaksikan di US$ 1.697,72/troy ons, dengan begitu harga emas masih melanjutkan penguatannya kemarin.

Pekan lalu harga bullion sempat tergelincir akibat rilis data tenaga kerja AS yang mengejutkan. Tak disangka bulan lalu angka penciptaan lapangan kerja (non-farm payrolls) melonjak sebesar 2,5 juta jauh melebihi ekspektasi yang memperkirakan adanya penurunan sebanyak 8 juta.

Kenaikan penciptaan lapangan kerja semakin membuat optimis pelaku pasar bahwa perekonomian sedang dalam proses pemulihan pasca pelonggaran lockdown untuk mengendalikan wabah corona.

Ekonomi yang secara gradual dibuka kembali telah mengakibatkan risk appetite investor bangkit. Aset-aset berisiko seperti saham pun terus menguat. Dini hari tadi indeks utama Wall Street kembali ditutup dengan apresiasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melompat 1,7%, S&P 500 naik 1,2% sementara Nasdaq Composite melesat 1,13%. Masih terus berlanjutnya reli di bursa saham New York mendapat sorotan dari investor.

“ini adalah dampak dari optimisme seputar dibukanya kembali perekonomian dunia, dan konfirmasi akan pemulihan ekonomi AS yang akan membentuk huruf V di paruh kedua tahun ini,” ujar Sam Stovall, ahli investasi CFRA Research.

Meski saham-saham di bursa AS terus melesat, koreksi yang terjadi pada emas justru menjadi momentum untuk para investor masuk dan membeli aset safe haven ini. Kemilau emas masih belum pudar. Begitu juga dengan prospek jangka panjangnya yang dinilai masih menarik.

“Tembusnya [harga emas] di bawah US$ 1.700 pada hari Jumat sekali lagi menarik beberapa permintaan dari investor, yang telah menunggu waktu untuk koreksi.” kata Ole Hansen seorang analis Saxo Bank, dilansir Reuters.

Pelaku pasar sekarang menunggu pertemuan kebijakan dua hari bank sentral AS yang berakhir pada hari Rabu (waktu AS). Namun pelaku pasar tak berharap lagi bahwa suku bunga akan ditekan ke teritori negatif setelah laporan ketenagakerjaan AS yang kuat pekan lalu.

Harga mas cenderung naik ketika suku bunga rendah. Rendahnya suku bunga mengurangi biaya peluang memegang emas yang tak memberikan imbal hasil. Emas juga dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi (hedging) ketika pemerintah dan bank sentral global terus menggelontorkan stimulus untuk menyelamatkan perekonomian. Smber : cnbc