PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 22/10/2019 – Harga emas dunia masih benar-benar tak kuat untuk menembus level US$ 1.500/troy ounce (Oz). Pagi ini hingga pukul 06.30 WIB harga emas terkoreksi 0,11% ke level US$ 1.486,55/Oz berdasarkan data www.investing.com.

Jika melihat lebih ke belakang, hingga awal pekan ini, harga logam mulia tidak sekalipun mampu menyentuh level psikologis tersebut.
Sejak menembus ke atas level US$ 1.500/troy ons pada 7 Agustus lalu, harga emas memang beberapa kali turun kembali, tapi tidak lebih dari 2 x 24 jam sudah kembali menyentuh level tersebut.

Padahal isu resesi di AS kembali muncul yang seharusnya bisa mendongkrak lagi harga emas, tapi ternyata tak cukup kuat.

Buruknya data ekonomi AS sejak hari Rabu (16/10/19) lalu menjadi penyebab munculnya kembali isu resesi. Departemen perdagangan AS melaporkan penjualan ritel di bulan September turun 0,3% month-on-month (MoM).Penurunan tersebut merupakan yang pertama dalam tujuh bulan terakhir.
Rilis tersebut berbanding terbalik dengan hasil survei Reuters terhadap para ekonom yang memprediksi kenaikan 0,3%. Sementara penjualan ritel inti yang tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan turun 0,1% MoM.

Penurunan penjualan ritel di bulan September menunjukkan melambatnya belanja konsumen AS. Sektor belanja konsumen berkontribusi sekitar 66% terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Dengan pelambatan di tersebut, pertumbuhan ekonomi Negeri Adikuasa di kuartal III-2019 tentunya akan terseret juga.

Sementara itu pada Kamis (17/10/19) indeks aktivitas manufaktur wilayah Philadelphia turun drastis menjadi 5,6 di bulan ini, dibandingkan bulan September sebesar 12,0. Akibatnya, spekulasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) di akhir bulan ini semakin menguat.

Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group, siang ini pelaku pasar melihat probabilitas sebesar 89,3% The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 1,5-1,76% pada 30 Oktober (31 Oktober dini hari WIB).

Harga emas seharusnya punya momentum untuk naik dari kecemasan akan terjadinya resesi, serta peluang penurunan suku bunga The Fed. Tetapi nyatanya harga emas bergeming di bawah US$ 1.500/troy ons.

Selain itu masalah perceraian Inggris dengan Uni Eropa atau Brexit yang kembali buntu seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi emas. Pada hari Sabtu (19/10/19) lalu, Parlemen Inggris menolak melakukan voting untuk proposal Brexit yang telah disepakati oleh Pemerintah Inggris dengan Uni Eropa.

Dengan deadline Brexit pada 31 Oktober nanti, banyak opsi-opsi yang bisa terjadi, mulai dari penundaan deadline, referendum kedua, bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadinya hard Brexit alias keluarnya Inggris dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun.

Jika hard Brexit terjadi, Inggris diprediksi akan mengalami resesi, dan tentunya berpengaruh ke negara-negara Benua Biru lainnya.

CNBC international melaporkan, voting proposal Brexit di parlemen masih bisa terjadi pada hari ini, tetapi kemungkinan Pemerintah Inggris akan mengalami kekalahan.

Banyak faktor yang sebenarnya bisa membuat harga emas bisa menguat kembali, tetapi nyatanya emas malah terlihat tak bertenaga dan terus tertahan di bawah US$ 1.500/troy ons. Apakah ini sinyal harga emas akan amblas lagi? Smber : cnbcnews