KPF BALI 29/10/14 – Pertumbuhan laba industri di Tiongkok tercatat melambat di sembilan bulan pertama tahun 2014 ini. Melambatnya pertumbuhan laba ini semakin memperkuat tanda-tanda kerapuhan di Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini. Saat ini, sebagian besar pabrik di Tiongkok saat ini sedang berjuang melawan penurunan harga dan menurunnya permintaan domestik.

Perusahaan yang berbasis industri berhasil mencetak laba sebesar 4.370.000.000.000 yuan ($ 714.680.000.000) selama periode Januari hingga September, atau naik 7,9 persen dari tahun sebelumnya, demikian seperti dilaporkan oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok.

Torehan laba di Sembilan bulan pertama tahun ini melambat jika dibandingkan dengan kenaikan sebesar 10 persen dalam delapan bulan pertama di sepanjang tahun ini. Adapun melambtanya pertumbuhan laba ini sebagian besar disebabkan oleh retribusi khusus pada pendapatan dari beberapa perusahaan minyak dan gas, yang menyebabkan write down keuntungan.

Para produsen di Tiongkok juga tengah berjuang melawan penurunan harga output pabrikyang mengakibatkan lemahnya permintaan domestik. Indeks harga produsen Tiongkok (PPI) turun sebesar 1,8 persen pada September lalu dari tahun sebelumnya, dimana penurunan ini memasuki penurunan bulanan ke-31 nya berturut-turut.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi tahunan Tiongkok juga melambat menjadi 7,3 persen pada kuartal ketiga, laju terlemah sejak krisis keuangan global. Kondisi ini kian menjadi tekanan tersendiri bagi pemerintah Tiongkok agar dapat mengambil langkah kebiakan untuk menaha laju perlambatan ekonomi di negaranya yang kian terlihat.