PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI  20/12/2018 – Pasar Asia merosot pada Kamis (20/12/2018) mengikuti koreksi yang terjadi di Wall Street setelah Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga dan penolakan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas keputusan The Fed tersebut.

Hal tersebut memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ini membuat indeks Dow Jones merosot ke level terendah sepanjang 2018 dan ikut menular ke pasar saham Asia yang hari ini mayoritas berada di zona merah.

Bursa Tokyo memimpin penurunan harga di bursa saham Asia pada Kamis, tergelincir 1,7%. Nikkei sedikit berubah setelah Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga. Karena ancaman proteksionisme perdagangan dan kenaikan pajak menyebabkan ekonomi melemah.

Shanghai turun 0,5 %, bahkan setelah People’s Bank of China mengatakan akan memasok likuiditas biaya rendah hingga 3 tahun ke bank yang bersedia meminjamkan lebih kepada perusahaan kecil. Karena pembuat kebijakan bertujuan untuk menopang ekonomi yang lesu.

Hong Kong, Seoul dan Sydney juga melemah.

Peningkatan seperempat poin pada Rabu di AS terjadi setelah Trump berulang kali menuntut suku bunga bank di Twitter. Dalam apa yang dianggap sebagai serangan paling umum terhadap kemerdekaan Fed dalam beberapa dasawarsa.

kontak perkasa futures

Trump telah mengutip kekuatan dolar sebagai alasan Fed harus berhenti menaikkan suku bunga karena tingkat yang lebih tinggi cenderung menarik modal asing ke mata uang.

Pengumuman suku bunga meningkatkan dolar, membuat sedikit kenaikan terhadap yen pada Kamis.

Di pasar komoditas, Minyak mentah Brent merosot pada Kamis, putaran terbaru dalam satu minggu penuh gejolak, memangkas kenaikan dari reli hari Rabu.

“Harga minyak bereaksi buruk terhadap arahan Fed yang menyarankan Fed tetap pada ‘auto pilot’,” Innes mengatakan.

Sebelumnya Rabu, bursa Eropa menguat, dipimpin oleh Milan, yang naik 1,6%. Setelah Uni Eropa dan Italia menyerukan gencatan senjata atas anggaran 2019 yang disengketakan Roma, karena pemerintah kerakyatan setuju untuk menunda tanda tangan reformasi.

“The Fed sempat menjadi teman dekat dari pasar saham. Sekarang, mereka sedikit dianggap sebagai musuh dan mungkin (akan) menjadi lebih buruk dari musuh sebelum semua ini berakhir,” Bob Doll, kepala strategi ekuitas Nuveen dan manajer portofolio senior, dilansir dari Bloomberg.

The Fed sekarang memproyeksikan hanya 2 kenaikan suku bunga, turun dari sebelumnya 3 kali, karena memangkas perkiraan untuk pertumbuhan dan inflasi AS.

Stephen Innes, kepala perdagangan Asia-Pasifik di OANDA, mengatakan “Fed menyampaikan sikap dovish. Tetapi jelas, tidak ada cukup penegasan dalam pernyataan bahwa The Fed hampir menghentikan atau mengakhiri siklus kenaikan suku bunga mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.”

Bingung
Ray Attrill, ahli strategi di National Australia Bank, mengatakan sentimen pasca-Fed “sedikit mengejutkan” mengingat bank menekankan “tahapan” laju kenaikan suku bunga tahun depan.

Tapi pada Kamis, kenaikan suku terus mengguncang investor di Asia. Memperdalam kekhawatiran atas prospek pertumbuhan global yang sudah menghadapi headwinds dari perang dagang Trump, ekonomi China yang melambat, dan potensi gejolak dari Inggris berhenti dari Uni Eropa.

Upaya untuk menyelesaikan perang dagang antara dua negara teratas dunia sedang berlangsung. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan Washington dan Beijing berencana mengadakan pertemuan pada Januari 2019 untuk merundingkan perdamaian perdagangan yang lebih luas. cnbc/news