PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 06/03/2019 –  Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Dolar AS semakin di atas angin setelah datang pernyataan dari pejabat Bank Sentral Jepang (BoJ).

Pada Rabu (6/3/2019) pukul 09:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.130. Rupiah melemah 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Seiring perjalanan, depresiasi rupiah agak menipis. Pada pukul 09:06 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.125 di mana rupiah melemah 0,07%.

Tidak hanya rupiah, sebagian besar mata uang utama Asia juga terjebak di zona merah. Ringgit Malaysia menjadi mata uang terlemah di Benua Kuning, disusul oleh won Korea Selatan dan baht Thailand berada di peringkat ketiga dari bawah. Rupiah tepat berada di atas baht.

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 09:08 WIB:

Dolar AS semakin jumawa, tidak hanya di Asia tetapi juga secara global. Pada pukul 09:11 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,02%. Dalam sebulan terakhir, indeks ini melonjak 1,07%.

Kekuatan dolar AS bertambah akibat pernyataan Yutaka Harada, Anggota Dewan Gubernur BoJ. Dalam sebuah seminar di yang dihadiri pada pemimpin perusahaan, dia menegaskan bank sentral tidak ragu untuk melonggarkan kebijakan moneter jika inflasi terancam tidak mencapai target 2%.

“Jika ekonomi terus melambat sampai ke titik di mana kita kesulitan untuk mencapai target inflasi 2% dalam jangka panjang, maka kami tidak akan menunda untuk meningkatkan dosis pelonggaran moneter. Mengakhiri pelonggaran moneter akan mendorong harga ke bawah dan membuat ekonomi menjadi lebih buruk,” tegasnya, mengutip Reuters.

Jepang memang masih berkutat dengan inflasi rendah. Pada Februari 2019, inflasi Negeri Matahari Terbit masih berada di 0,2% year-on-year(YoY). Target 2% terasa begitu jauh.

Oleh karena itu, pelaku pasar memperkirakan BoJ masih akan mempertahankan kebijakan moneter longgar dalam beberapa waktu ke depan. Kenaikan suku bunga acuan masih amat jauh dari jangkauan.

“Menurut pandangan saya, arah kebijakan BoJ ke depan adalah menjaga suku bunga sangat rendah sampai inflasi bergerak ke arah yang lebih kuat. BoJ harus lebih melonggarkan kebijakan moneter jika ekonomi memburuk, dan sebaliknya mengurangi kadar pelonggaran kala ekonomi membaik,” jelas Harada.

Sementara Bank Sentral AS, The Federal Reserves/The Fed, masih dalam jalur menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini meski tidak seagresif 2018. Menurut dot plot The Fed, target media Federal Funds Rate pada akhir 2019 adalah 2,8% sehingga butuh dua kali kenaikan lagi dari posisi saat ini yaitu 2,375%.

Jadi, berinvestasi di dolar AS masih akan menarik dibandingkan dengan mata uang lain. Arus modal akan kembali berpihak kepada greenback, yang bukan tidak mungkin mampu mempertahankan takhta raja mata uang dunia. 

Smber: cnbcnews