KONTAK PERKASA FUTURES – Jika melihat dari maraknya pemilihan sarana investasi syariah di Indonesia, serta semakin populernya pendanaan usaha ekonomi oleh bank syariah, bisa dibilang usaha syariah merupakan salah satu faktor penentu kuat lemahnya indeks bisnis Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Bahkan, banyak lembaga pembiayaan syariah yang bergembira karena suntikan dana untuk investasi syariah dari pemerintah cukup meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan melihat fakta ini, tidak mengherankan jika tren investasi saham lewat BEI pun ada yang berkiblat kepada indeks saham berbasis syariah. Hal ini difasilitasi oleh BEI dengan menerbitkan indeks saham yang khusus menerbitkan saham dari perusahaan atau institusi yang beroperasi dengan label syariah. Indeks bisnis khusus ini disebut JII atau Jakarta Islamic Index, yang diluncurkan sejak tahun 2003 dan memiliki konsep serupa dengan bursa efek Malaysia.

 

Mengapa ada JII?

Pengadaan JII nampaknya wajar mengingat sekitar 90 persen warga Indonesia adalah muslim. Akan tetapi, pengadaan indeks JII ini tidak hanya untuk mengakomodir pemilik dana investasi di Indonesia yang muslim, tetapi juga siapapun yang berniat memanfaatkan keunggulan investasi pada badan syariah untuk manfaat investasi pribadi ke depannya. Dalam kaitannya dengan indeks bisnis Indonesia, investasi para saham milik perusahaan atau badan syariah menghindarkan investor dari jenis usaha yang berbagi riba dan bisa mengakibatkan hutang.

Selain itu, dengan melihat adanya tren investasi dan pembiayaan institusi syariah yang semakin marak, serta adanya suntikan dana pengelolaan pembiayaan yang makin besar dari pemerintah untuk berbagai usaha syariah, menunjukkan besarnya kepercayaan yang mulai ditunjukkan masyarakat pada usaha bersifat syariah ini. Jadi, JII dapat mengakomodir mereka yang sudah mengenal manfaat investasi syariah dan ingin memanfaatkannya untuk investasi saham.

 

Perusahaan yang Masuk Daftar JII

Perusahaan dan institusi yang masuk daftar JII setiap tahun selalu dikontrol ketat, dan daftarnya selalu dirveisi setiap 6 bulan sekali. Setiap perusahaan atau emiten yang ingin masuk ke dalam daftar indeks JII harus memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut:

  • Jika bukan kelompok 10 kapitalisasi besar, perusahaan tersebut harus memiliki jenis usaha yang prinsip utamanya adalah syariah, dan minimal harus sudah berjalan selama 3 bulan.
  • Harus punya saham yang rasio kewajiban ke aktiva maksimalnya minimal 90 persen atau lebih besar, dan itu harus berdasarkan laporan keuangan yang dibuat di pertengahan tahun atau akhir tahun.
  • Harus punya minimal 60 saham berdasarkan rata-rata kapitalisasi pasar dan 30 saham dengan urutan likuiditas rata-rata yang berdasarkan nilai perdagangan yang reguler. Keduanya harus sudah dimiliki minimal selama setahun terakhir.
  • Saham yang dimiliki tidak boleh berkaitan dengan usaha yang bersifat riba dan haram bagi muslim, misalnya terkait penjualan dan pendistribusian minuman keras, judi, produk mengandung babi, serta barang-barang ilegal. Hal ini sebenarnya secara umum juga tak baik bagi indeks bisnis Indonesia.

Penyeleksian ini tentu saja dilakukan dengan pengawasan lembaga berwenang, dalam hal ini adalah Dewan Pengawas Syariah dari PT DIM.

 

Investasi Saham Syariah dan Indeks Bisnis

Berinvestasi pada saham di perusahaan syariah lewat BEI bukan hanya bagus untuk memenuhi prinsip bisnis muslim, namun juga membantu meningkatkan indeks bisnis Indonesia. Kepopuleran bisnis dan investasi syariah serta sifatnya yang non riba membuat investasi lewat JII patut dicoba baik oleh pengusaha dengan sistem bisnis syariah, maupun investor umum.