PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 06/02/2017 – Rata-rata instrumen investasi belum mencetak pertumbuhan kinerja pesat di Januari. Rata-rata kenaikan harga obligasi di bulan pertama tahun ini cuma 1,73%. Indeks Harga Saham Gabungan malah melorot 0,05%.

Tapi sejumlah reksadana sukses mencetak kinerja fantastis. Infovesta Utama mencatat, reksadana dengan kinerja paling moncer di Januari lalu adalah MCM Syariah besutan PT Millenium Capital Management. Produk ini mendulang imbal hasil sebesar 27,34% sepanjang Januari saja. Padahal, rata-rata kinerja reksadana saham di Januari hanya 0,27%.

Senior Research & Investment Analyst Infovesta Utama Wawan Hendrayana bilang, reksadana saham berkinerja terbaik mayoritas menitikberatkan portofolionya pada sektor komoditas, seperti pertambangan. Mayoritas portofolio lima reksadana pencetak return tertinggi Januari lalu diisi saham sektor pertambangan. Ia memprediksi, sektor komoditas bisa memberikan imbal hasil 10%-20%.

Dari kategori reksadana campuran, HPAM Flexi Plus besutan PT Henan Putihrai Asset Management sukses jadi reksadana berkinerja terbaik dengan return 13,36%. Senior Vice President & Head of Business Development Division HPAM Reza Fahmi Riawan bilang, saham tambang dan properti jadi pilihan pengisi portofolio. Kedua sektor ini diperkirakan terus menggeliat tahun ini.

Selain itu, HPAM Flexi Plus juga memasukkan saham aneka industri. Reza optimistis, sektor properti bisa tumbuh 10% di tahun ayam api. “Tapi ke depan kami masih wait and see di mining, karena sudah sempat koreksi, papar Reza. Produk ini ditargetkan bisa mencetak return hingga 19,21%, dengan asumsi ekonomi tumbuh sebesar 5%.

Berkat obligasi

Pada reksadana tetap, produk Sucorinvest Bond Fund milik Sucorinvest Asset Management menjadi pencetak return terbaik dengan imbal hasil 3,71%. Pada periode yang sama, rata-rata return reksadana pendapatan tetap, sebagaimana tercermin dari Infovesta Fixed Income Fund Index, hanya sebesar 1,02%.

Direktur Investasi Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana mengatakan, pihaknya bisa meraih return tinggi karena pada awal tahun membeli obligasi dengan tenor 10 tahun. “Kami yakin rupiah akan menguat dan inflow cukup bagus di obligasi pemerintah. Pada saat yield menyentuh 7,6% kami take profit kemudian membeli tenor pendek, tetapi di akhir bulan kami kembali masuk ke obligasi pemerintah tenor panjang,” jelas dia.

Sekitar 90% aset dasar Sucorinvest Bond Fund berisi 90% dan sisanya adalah dana tunai. Karena pasar obligasi dalam negeri sedang bagus seiring masuknya dana asing, Sucorinvest menargetkan reksadananya bisa mencetak return mencapai 12%-15% hingga akhir tahun.

Sementara, di kategori reksadana pasar uang, CIMB Principal Bukareksa Pasar Uang milik PT CIMB Principal Asset Management menduduki peringkat teratas dengan imbal hasil 0,80%. Menyusul di urutan berikut reksadana CIMB Principal Cash Fund dengan imbal hasil 0,73% dan Syailendra Dana Kas besutan Syailendra Capital dengan imbal hasil 0,67%.

Direktur Syailendra Capital Harnugama mengatakan, pihaknya menerapkan porsi seimbang antara obligasi dan deposito untuk reksadana pasar uangnya. Instrumen obligasi digunakan untuk meningkatkan return, sementara instrumen deposito dimanfaatkan untuk menjaga likuiditas. Obligasi antara 30%-40%, sisanya deposito, papar dia.

Sejalan dengan tren penurunan bunga deposito, produk ini diprediksi tak memberi imbal hasil terlalu besar. Karena itu, perusahaan juga mengincar penempatan dana pada obligasi korporasi yang memiliki rating minimal A. Target return Syailendra Dana Kas antara 7,2%-7,4% atau setara dengan deposito di 9%-9,5%, ungkap Harnugama.