KPF BALI 02/12/14 - Dana Moneter Internasional (IMF) menilai penurunan harga minyak belakangan ini memberikan dorongan bagi perekonomian global, namun berdampak negatif terhadap negara-negara penghasil energi seperti Rusia.

“Penurunan ini mungkin cukup baik bagi perekonomian global,” ujar Managing Director IMF, Christine Lagarde, di Washington, seperti dilansir laman Bloomberg, Selasa (2/12), menanggapi penurunan harga minyak sebesar 18 persen sejak bulan lalu.

“Namun, bagi Rusia, penurunan ini bisa menjadi ancaman besar yang menambah kerapuhan dan kerentanan mereka, dan mereka mengetahuinya. Ini masih harus dilihat apa reaksinya.”

Pernyataan Lagarde menggambarkan keuntungan dan bahaya yang ditimbulkan akibat melonjaknya produksi minyak Amerika Serikat yang mengubah lansekap geopolitik dunia di tengah melambatnya pemulihan ekonomi global dari perkiraan.

Penurunan 30 persen harga minyak bisa diterjemahkan memberikan dorongan 0,8 persen pada pertumbuhan bagi perekonomian negara maju dan kemungkinan 0,6 persen terhadap AS, demikian penuturan Lagarde.

Seperti diketahui, minyak dan gas menyumbang sekitar 68 persen ekspor Rusia dan 50 persen anggaran federalnya. Rusia sudah kehilangan cadangan devisanya hampir US$90 miliar pada tahun ini, setara dengan 4,5 persen dari perekonomiannya, karena berupaya mencegah anjloknya rubel setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi akibat keterlibatan Moskwa dalam konflik di Ukraina. Sejak Juni, nilai tukar rubel terhadap dollar sudah melemah sekitar 35 persen.

Baru-baru ini, Lagarde mengatakan kepada audience di Kuwait bahwa negara-negara Timur Tengah harus bersiap-siap mengalami defisit fiskal. Venezuela dan negara-negara kecil di Afrika juga menjadi negara yang terpukul cukup keras akibat merosotnya harga minyak internasional.

IMF, kata dia, bisa membantu negara-negara lebih kecil yang mengandalkan ekspor minyak untuk mendongkrak perekonomiannya. Sementara itu, terkait Ukraina, Lagarde mengatakan dibutuhkan pembiayaan cukup besar untuk mendukung pemerintah yang serius mereformasi negara tersebut.