Sentimen positif dari data manufaktur telah membuat indeks Dow Jones Industrial (DJI) semalam bergerak naik 26,46 poin (+0,16 persen) dan ditutup pada level 16743,63.  Posisi penutupan ini sentimennya cukup bagus, karena pada pergerakan semalam, DJI mencetak rekor penutupan terbaru, disamping rekor level tertinggi yang baru.
Meskipun demikian, sentimen positif dari bursa regional ini, sepertinya masih terlalu ringan dibandingkan dengan sentimen negatif yang ada dari dalam negeri, sebagai akibat dari angka defisit neraca perdagangan sebesar US$1,96 miliar yang diumumkan kemarin.  Angka ini diluar perkiraan konsensus yang memperkirakan neraca perdagangan masih tetap surplus.  Pada pergerakan kemarin, IHSG memang ditutup dengan kenaikan, tapi itu lebih disebabkan oleh teknikal rebound yang terjadi akibat koreksi terlalu dalam yang terjadi pada hari Jumat.
IHSG hari ini diperkirakan bakal bergerak bervariasi pada kisaran 4865 – 4926.  Rebound yang terjadi kemarin, sebenarnya belum memberikan signal positif karena posisi penutupan IHSG masih dibawah kisaran resisten 4913 – 4926.  Hanya penutupan diatas resisten tersebut yang akan mengakhiri trend turun jangka pendek yang tengah berlangsung.  Trend turun jangka pendek yang tengah berlangsung pada IHSG, memiliki potensi koreksi hingga kisaran 4750 – 4850.
Untuk posisi jangka menengah, pemodal sebaiknya hanya melakukan akumulasi ketika IHSG memasuki kisaran suport 4750 – 4850.  Kami masih memberikan rekomendasi Buy On Weakness untuk saham sektor perbankan, konstruksi, dan komoditas.

Global Outlook
Saham Asia bergerak variatif hari ini menyusul hasil Wall Street yang kurang meyakinkan dan data manufaktur dunia yang beragam.
Indeks Nikkei menguat 0,9% ke level tertinggi dalam dua bulan, menembus level 15.000. Selain karena faktor eksternal, pelemahan yen juga turut membantu. Sentimen juga terangkat oleh pernyataan Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda bahwa pihaknya siap melonggarkan kebijakan lagi.  Indeks Kospi melemah 0,3% karena kenaikan inflasi ke level tertinggi dalam 19 bulan. Indeks Singapura STI masih flat.  Indeks Hang Seng menguat 0,85%.
Wall Street naik tipis, dengan indeks Dow Jones  menguat 0,16%, menyusul data manufaktur AS yang menunjukkan pertumbuhan. Indeks manufaktur ISM naik ke 55,4 di Mei dari 54,9 di April. Data manufaktur China kemarin menjadi faktor yang mengangkat saham regional. Data hari ini menunjukkan indeks PMI jasa China naik ke 55,5 di Mei dari 54,8 di April.  Tapi sayangnya, indeks PMI manufaktur zona euro direvisi turun menjadi 52,2 dari 52,5.
Kebijakan moneter Australia akan diumumkan hari in. Meski tidak ada keputusan baru, pasar tetap mencermati pernyataan sang gubernur Glenn stevens mengenai petunjuk prospek kebijakan. Nanti sore ada data inflasi zona euro, yang dapat mempengaruhi persepsi pasar akan prospek kebijakan ECB.  Pasar kini bereaksi negatif atas hasil angka final indeks PMI manufaktur China versi HSBC yang turun makin kontraksi 49,4 dari sebelumnya 49,7.
Pada dasarnya, saham AS sudah mencapai valuasi yang tinggi, tercermin dari dua indeks utamanya, S&P 500 dan Dow Jones yang beberapa kali mencetak rekor. Seiring pemulihan ekonomi AS, prospek saham tetap cerah, tapi valuasi yang tinggi menghambat lajunya. Sebagian analis melihat adanya potensi koreksi, tinggal masalah waktu dan pemicunya saja.

Review IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound dan kembali masuk area 4.900 di awal perdagangan minggu ini. Pada penutupan perdagangan, Senin (02-06-2014), IHSG naik 0,37% menjadi 4.912,09.
Penguatan bursa regional menjadi katalis positif buat indeks, dimana kenaikan bursa Wall Street di akhir minggu, serta positif data manufaktur China, berhasil mengangkat sentimen. Namun, laju IHSG sempat tersendat setelah rilisan data ekonomi yang kurang begitu bagus. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi Mei 2014. Pada Mei, terjadi inflasi 0,16% dibandingkan bulan sebelumnya. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, terjadi inflasi 7,32%. Sedangkan neraca perdagangan bulan April mengalami defisit US$ 1,97 miliar. Sementara itu, investor asing kembali masuk pasar dengan mencatatkan net buy senilai Rp 848,85 miliar di pasar reguler dan negosiasi.
Sebanyak tujuh sektor menghijau. Tiga sektor dengan kenaikan terbesar di antaranya: sektor industri lain-lain yang naik 1,68%, sektor pertambangan naik 1,25%, dan sektor keuangan naik 1,16%.
Saham-saham yang naik di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.100 ke Rp 29.750, Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 1.050 ke Rp 5.950, Link Net (LINK) naik Rp 800 ke Rp 2.400, dan Unilever (UNVR) naik Rp 625 ke Rp 29.750
Sementara saham-saham yang turun antara lain Pool Advista (POOL) turun Rp 950 ke Rp 4.100, Matahari (LPPF) turun Rp 625 ke Rp 13.900, Astra Agro (AALI) turun Rp 450 ke Rp 26.875, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 400 ke Rp 68.500.