PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 25/06/2018 – Bursa saham Amerika Serikat ditutup menghijau pada transaksi Jumat (22/6), kemarin. Merujuk pada data Reuters, pada pukul 16.00 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan 119,19 poin menjadi 24.580,89. Saham-saham yang masuk ke dalam jajaran top gainers di antaranya Chevron dan Exxon Mobil.

Sedangkan indeks S&P 500 naik 0,2% menjadi 2.754,88. Sektor energi, material, dan telekomunikasi mencatatkan kenaikan tertinggi pada indeks ini. Sedangkan indeks Nasdaq composite ditutup dengan penurunan 0,3% menjadi 7.692,82 seiring dengan kejatuhan sektor teknologi.

Reli pada harga minyak dunia menyebabkan kenaikan pada saham-saham energi. Saham Exxon Mobil, misalnya, naik 2,1%. Adapun saham Chevron naik 2%. Alhasil, indeks energi pada S&P 500 melompat 2,2%.

Informasi saja, harga minyak dunia ditutup dengan kenaikan 4,6% menjadi US$ 68,58 per barel kemarin. Adapun harga minyak Brent naik 3,4% menjadi US$ 75,55 per barel. Lompatan minyak terjadi setelah adanya keputusan OPEC yang memperketat suplai minyak sebagai upaya untuk mengeringkan cadangan minyak global.

“Ini merupakan berita besar untuk hari ini, baik berita OPEC dan bagaimana reaksi di pasar saham,” jelas Tim Ghriskey, chief investment strategist Inverness Counsel di New York seperti yang dikutip Reuters.

Jika dikalkulasikan, sepanjang pekan ini, indeks Dow Jones sudah turun 2%. Ini merupakan performa paling lemah sejak akhir Maret lalu. Sedangkan indeks S&P 500 turun 0,9% dan indeks Nasdaq turun 0,7% pada periode yang sama.

Ghriskey menilai, investor saat ini masih mencemaskan perang dagang antara AS dan partner kerjanya. Seperti yang diketahui, teranyar, Presiden AS Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif sebesar 20% untuk seluruh mobil impor dari Uni Eropa. Pengumuman itu dilakukan selang sebulan setelah pemerintah AS merilis dugaan apakah impor otomotif memberikan ancaman terhadap keamanan nasional.

“Terlihat jelas, semakin lama isu ini digiling, market akan mengalami tekanan. Setidaknya tekanan akan terjadi pada beberapa sektor dan dialami oleh perusahaan tertentu,” tambah Ghriskey.