PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 10/06/2019 – Harga minyak mentah dunia lanjut menguat untuk hari ke-3. Kekhawatiran akan perang dagang Amerika Serikat (AS)-Meksiko yang telah surut membuat proyeksi permintaan minyak kembali meningkat.
Rencana Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) melanjutkan pengurangan produksi hingga akhir tahun 2019 juga memberi sentimen pada pergerakan harga.
Pada perdagangan hari Senin (10/6/2019) pukul 08:00 WIB, harga minyak Brent kontrak pengiriman Agustus menguat 0,58% ke level US$ 63,66/barel. Sementara jenis light sweet (WTI) naik 0,69% menjadi US$ 54,36/barel.

KONTAK PERKASA
Dalam sepekan kemarin, harga Brent dan WTI mampu membukukan penguatan masing-masing sebesar 0,92% dan 2,1% secara point-to-point.

Pasar minyak kembali mendapat energi positif setelah AS dan Meksiko dikabarkan telah mencapai kesepakatan yang bisa meruntuhkan potensi perang dagang antara keduanya.
Mengutip Reuters, kedua negara dikabarkan telah mencapai kesepakatan pada hari Jumat (7/6/2019) setelah perundingan berjalan selama 3 hari di Washington.

Keputusan tersebut disampaikan bersama oleh delegasi kedua negara dan mengatakan Meksiko telah setuju untuk menerima lebih banyak migran yang mencari suaka ke AS ketika menunggu putusan atas kasus mereka.

Meksiko juga setuju untuk meningkatkan penegakan hukum untuk menahan arus imigrasi ilegal, termasuk menempatkan Garda Nasional di perbatasan bagian Selatannya.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump telah mengancam akan mengenakan bea impor sebesar 5% terhadap produk Meksiko mulai 10 Juni apabila tidak ada kesepakatan mengenai permasalahan imigran gelap. Tidak hanya itu, dirinya juga berencana menaikkan bea impor hingga sebesar 25% kecuali Meksiko mengambil langkah serius mengenai masalah tersebut.

Dengan begini, potensi perang dagang baru AS dengan Meksiko setidaknya dapat dihindari. Untuk sementara waktu. Pasokan minyak dari Meksiko dapat kembali mengalir ke kilang-kilang AS tanpa hambatan.

Selain itu, pada hari Jumat (7/6/2019), Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih mengatakan bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya harus memperpanjang kebijakan pengurangan pasokan hingga akhir tahun 2019, mengutip Reuters. Lebih lanjut, pihaknya tidak ingin bertarung mendapatkan pangsa pasar dengan Amerika Serikat dan membuat kejatuhan harga minyak terulang.

Presiden Rusia, Vladimir Putin juga menegaskan Negeri Beruang Merah akan secara bersama-sama mengambil kebijakan pengurangan pasokan dalam beberapa minggu ke depan, seperti yang dilansir dari Reuters, Kamis (6/6/2019).

Komentar tersebut sedikit menenangkan pelaku pasar karena sebelumnya Rusia terlihat sangat ingin untuk kembali menggenjot produksi minyak karena harga yang sudah normal.

Selama ini memang terjadi perbedaan persepsi atas harga minyak yang ‘normal’ menurut Rusia dan Arab Saudi.

Menurut catatan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), kerajaan dinasti Saud membutuhkan harga minyak pada kisaran US$ 80-85 untuk menyeimbangkan anggaran negara tahun ini. Namun Putin mengatakan harga minyak US$ 60-65 sudah cukup untuk Moskow.

smber.cnbcnews