PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 31/08/16 – Harga minyak naik moderat pada perdagangan Eropa di hari Selasa, rebound dari kerugian semalam akibat pelaku pasar terus memantau melimpahnya pasokan global.

Di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman November naik tipis 21 sen, atau 0,42%, diperdagangkan pada $49,66 per barel pada pukul 14.55 WIB, setelah jatuh 70 sen, atau 1,4%, pada hari Senin.

Sementara itu, minyak mentah untuk pengiriman Oktober di Bursa Perdagangan New York naik 28 sen, atau 0,6%, untuk diperdagangkan pada $47,26 per barel. Sehari sebelumnya, minyak berjangka New York diperdagangkan merosot 66 sen, atau 1,39%.

Kerugian minyak, Senin, datang setelah dolar AS menguat luas, memudarnya harapan pembekuan produksi dan kekhawatiran tentang produksi tambahan dari Timur Tengah dan Afrika yang membebani sentimen.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik menjadi 95,83 Selasa, tertinggi sejak 12 Agustus. Harga terakhir berada pada 95,73 di tengah indikasi Federal Reserve bersiap-siap untuk menaikkan suku bunganya pada awal bulan depan.

Peningkatan suku bunga AS cenderung untuk mengangkat nilai dolar, yang akan membuat minyak lebih mahal bagi para pedagang yang melakukan bisnis dalam mata uang lainnya.

Sementara itu, kemungkinan minimal bahwa pertemuan mendatang antara produsen minyak utama di akhir September akan menghasilkan tindakan apapun untuk mengurangi banjirnya pasokan global setelah Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan bahwa dia tidak percaya “intervensi signifikan” apapun di pasar minyak yang diperlukan.

Komentarnya dilaporkan datang menjelang pertemuan informal Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC di Aljazair pada akhir bulan depan, di mana produsen minyak utama diperkirakan akan membahas potensi pembekuan produksi.

Namun, analis dan pedagang tetap skeptis bahwa pertemuan itu akan menghasilkan usaha yang koheren untuk mengurangi banjirnya pasokan global.

Harga minyak melonjak hampir $10 per barel, atau hampir 25%, dalam tiga minggu pertama bulan Agustus, akibat prospek pembekuan produksi oleh produsen utama pada pertemuan informal OPEC di Aljazair bulan depan yang memicu reli besar.

Sebuah usaha bersama-sama mempertahankan tingkat produksi awal tahun ini gagal setelah Arab Saudi mundur atas penolakan Iran dalam mengambil bagian dari inisiatif, menggarisbawahi kesulitan persaingan politik dalam menggabungkan konsensus.