PT KONTAKPERKASA FUTURES BALI 28/07/2020 – Harga emas Antam di awal semester kedua 2020 semakin mengilap terdorong oleh lonjakan harga emas dunia ke rekor baru sejak 9 tahun silam atau September 2011 di tengah penyebaran pandemi virus corona yang menghantam ekonomi global hingga berujung resesi beberapa negara.

Pada perdagangan hari ini, Selasa (28/7/2020) harga emas dunia di pasar spot melanjutkan reli nya ke rekor tertinggi baru menjadi US$ 1.972,65 per pukul 09.25 WIB.

Sementara untuk harga emas logam mulia acuan yang diproduksi oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Selasa (28/7/2020) naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram, untuk kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan secara umun, sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram.

Kenaikan harga emas Antam ini menjadi keuntungan untuk tujuh minggu berturut-turut sejak 6 Juni 2020. Bahkan hingga awal semester II-2020 harga emas Antam terus meroket sebesar Rp 103.000 atau 11,96% dari level harga Rp 861.120/gram di awal bulan Juli (1/7/2020).

Kenaikan ini juga melanjutkan apresiasi kinerja di semester I-2020 ketika melambung sebesar Rp 147.120 atau 20,63% dari level Rp 713.000/gram di penghujung tahun 2019 ke level Rp 860.120 pada perdagangan akhir semester I (30/6/2020).

Jika mengacu pada harga akhir tahun Rp 713.0000/gram ke level hari ini Rp 964.120/gram, maka emas Antam year to date, naik 35,22% atau Rp 251.000/gram.

Emas Antam kepingan 100 gram lumrah dijadikan acuan transaksi emas secara umum, tidak hanya emas Antam. Harga emas Antam di gerai penjualan lain bisa berbeda.

Harga dan ketersediaan emas di tiap gerai bisa berbeda. Harga emas tersebut akan dikenakan biaya PPh 22 (Pajak Penghasilan Pasal 22 atas emas batangan). Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% (untuk pemegang NPWP dan 0,9% untuk non NPWP).

Kenaikan harga emas tersebut dipicu oleh risiko ketidakpastian ekonomi global akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China yang menyebar ke seluruh negeri.

 

Pandemi Covid-19 ini telah memicu pembatasan wilayah atau lockdown di seluruh negara guna memitigasi penyebaran, sehingga berdampak pada terhentinya roda perekonomian global. Pada gilirannya, mengurangi prospek untuk pemulihan ekonomi berbentuk V dan berdampak pada sentimen risiko global.

Harga logam mulia emas dunia memang tengah diuntungkan oleh pandemi virus corona karena dampaknya terhadap ekonomi dunia ke dalam resesi.

Ketika aktivitas ekonomi terganggu maka berujung pada jurang resesi, yaitu pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi dalam kurun dua kuartal berturut, membuat investor mencari perlindungan ke aset-aset aman atau safe haven.

Investasi emas yang dianggap sebagai lindung nilai (hedging) di saat ketidakpastian ekonomi akibat pandemi virus corona, menunjukkan bahwa instrumen yang satu ini merupakan aset safe haven yang paling dicari ketika situasi ekonomi berada di jurang resesi.

Selain itu, indeks dolar AS yang terus merosot serta rencana stimulus fiskal lanjutan di Amerika Serikat (AS) menjadi pendorong kenaikan logam mulia emas. Indeks dolar AS kemarin kembali turun ke 93,48 yang merupakan level terendah dua tahun atau sejak September 2018 di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China.

Ambrolnya indeks dolar AS membuat harga emas dunia terus melesat. Maklum saja, berdenominasi dolar AS, harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya kala dolar AS melemah, sehingga permintaannya akan meningkat dan harganya pun melesat.

“Prospek harga emas tetap positif untuk jangka menengah dengan ketidakpastian ekonomi yang tinggi dan pemerintah global dan neraca bank sentral yang meningkat secara besar-besaran.” kata Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam dasar dan logam mulia di BMO.

“Orang menggunakan emas sebagai aset safe-haven dan juga banyak yang percaya bahwa inflasi akan naik di kuartal mendatang,” kata Phil Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures di Chicago, melansir Reuters.