PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 11/03/2019 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)memang masih melemah. Namun depresiasi rupiah menipis sehingga melahirkan asa bagi mata uang Tanah Air untuk berbalik menguat.
Pada Senin (11/3/2018) pukul 09:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.310. Rupiah melemah 0,03% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Seiring perjalanan pasar, depresiasi rupiah sedikit lebih dalam menjadi 0,07%. Sebab pada pukul 09:05 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.315.
Meski masih melemah, tetapi depresiasi rupiah sudah semakin tipis. Beberapa saat lalu, pelemahan rupiah sempat menyentuh 0,2%.
Oleh karena itu,  masih ada harapan bagi rupiah untuk menyeberang ke zona hijau. Maklum, rupiah suda tertekan selama sepekan terakhir sehingga sangat merindukan teritori apresiasi.

Meski depresiasinya menipis, rupiah masih menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia. Selain rupiah, ada yuan China, won Korea Selatan, rupee India, dan dolar Singapura yang masih terjebak di zona merah.
Namun setidaknya rupiah sudah tidak menjadi yang terlemah di Asia, posisi itu kini dihuni oleh won. Rupiah naik satu setrip menjadi runner-up dari bawah.

Harga Minyak Bebani Rupiah

Apa mau dikata, dolar AS memang masih perkasa. Pada pukul 09:08 WIB, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,12%. Dalam sebulan terakhir, indeks ini sudah melesat dengan penguatan 0,82%.

Selain dolar AS yang masih terlalu tangguh, tekanan terhadap rupiah juga hadir dari dinamika di pasar komoditas. Pada pukul 09:09 WIB, harga minyak jenis brent dan light sweet naik masing-masing 0,15% dan 0,34%.

Kenaikan harga si emas hitam disebabkan oleh pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC). Ditambah dengan negara lain di luar OPEC seperti Rusia, pemotongan produksi minyak mencapai 1,2 juta barel/hari.
Kebijakan ini masih akan dilanjutkan, setidaknya dalam waktu dekat. Khalid Al Falih, Menteri Perminyakan Arab Saudi, menyatakan pengurangan produksi masih akan dipertahankan sampai bulan depan.

“Kami akan lihat apa yang terjadi sampai April. Kalau tidak ada gangguan, kami akan melanjutkan,” tegasnya, dikutip dari Reuters.

Namun kenaikan harga minyak dibatasi oleh risiko perlambatan ekonomi dunia. Pekan lalu, Bank Sentral Uni Eropa (ECB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Zona Euro dari 1,7% menjadi 1,1% pada 2019. Begitu pula China, yang menurunkan target pertumbuhan ekonomi 2019 ke 6-6,5% dari pencapaian 2018 yang sebesar 6,6%.

Perlambatan ekonomi tentu akan membuat permintaan energi lesu. Akibatnya kenaikan harga minyak sulit untuk terlalu tinggi.

Walau harga minyak cuma naik tipis, tetapi itu sudah cukup untuk menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Kenaikan harga komoditas ini akan membuat prospek neraca perdagangan dan transaksi berjalan (current account) Indonesia akan tertekan. Maklum, Indonesia adalah negara net importir minyak, mau tidak mau harus mengimpor karena produksi dalam negeri tidak cukup untuk memenuhi permintaan.

Padahal transaksi berjalan adalah fondasi penting bagi nilai tukar, karena pos ini mencerminkan pasokan devisa yang berjangka panjang. Tanpa sokongan transaksi berjalan yang kuat, rupiah menjadi rentan ‘digoyang’ dan akhirnya melemah.

Investor tentu berpikir ulang untuk mengoleksi aset-aset berbasis rupiah, karena siapa yang mau memegang aset dengan nilai yang berisiko melemah? Persepsi ini membuat rupiah rawan mengalami tekanan jual.

Smber: cnbcnews