PT KONTAK PERKASA FUTURES BALI 08/05/2017 – JAKARTA. Kinerja sektor perbankan pada kuartal satu tahu ini membaik. Kinerja sektor ini masih akan positif seiring membaiknya non performing loan (NPL) tahun ini.

Di tiga bulan pertama tahun ini, mayoritas laba bersih bank BUMN tumbuh satu digit. Laba bank swasta tumbuh dua digit. NPL industri perbankan turun jadi 3,04% pada akhir Maret dari 3,16% di Februari. “Setahun ini industri perbankan diperkirakan bisa menekan NPL ke bawah 3%, sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih menggeliat,” kata Bima Setiaji, Analis NH Korindo, kepada KONTAN.

Senada, analis OSO Sekuritas Riska Afriani bilang, kinerja sektor perbankan kembali positif. Beberapa emiten yang kinerjanya jeblok di 2016, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Permata Tbk (BNLI), mulai mencatatkan kinerja positif.

BNLI membukukan laba bersih Rp 453 miliar di akhir kuartal satu 2017 dari kerugian Rp 376 miliar pada kuartal satu tahun lalu. NPL bank ini turun menjadi 6,6% dari 8,8% pada akhir 2016. “Begitu juga halnya dengan BMRI yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba dan penurunan NPL,” ungkap Riska kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, pertumbuhan bank BUKU IV lebih rendah dari bank yang kelasnya di bawah. Pasalnya, bank besar sudah banyak menguasai segmen, sehingga pertumbuhan menjadi terbatas.

Reza menilai, perbaikan kondisi ekonomi Indonesia turut menopang perbaikan kinerja sektor perbankan. “Upaya perbaikan kualitas kredit dan tingkat kolektibilitas untuk menjaga NPL turut berimbas pada perbaikan kinerja,” ungkap Reza.

Menurut Riska perbankan sudah mencadangkan kerugian penurunan nilai dalam jumlah besar di 2016. Tahun ini, prospek bisnis bank akan positif. “Selain itu, kredit tahun ini diperkirakan tumbuh di atas 10%,” ujar dia.

Riska menilai, ada beberapa peluang dan tantangan bagi sektor perbankan tahun ini. Salah satunya peluang bagi perbankan adalah potensi penurunan suku bunga kredit untuk korporasi. Saat ini, sejatinya bunga kredit korporasi sudah single digit.

Penurunan suku bunga lebih lanjut akan membuat korporasi lebih mudah mengakses kredit bank. Dus, penyaluran kredit bakal lebih kencang. Proyek infrastruktur pemerintah yang terus berjalan dan membaiknya pertumbuhan ekonomi turut menopang sektor perbankan.

Sedang tantangan perbankan adalah turunnya suku bunga kredit bank, yang bisa menekan net interest margin (NIM), pendapatan bunga dan laba bersih. Tantangan lain datang dari sektor properti. Kredit properti menengah atas masih lesu.

Sekadar info, penyaluran kredit bank masih kurang oke. Data BI menunjukkan kredit perbankan di kuartal I hanya tumbuh sekitar 9,2% menjadi Rp 4.368 triliun.

Bima menilai emiten perbankan yang kinerjanya akan positif tahun ini misal PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Laba bersih BNGA di kuartal satu melonjak 138% dibanding tahun sebelumnya.

Sedang Riska menilai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menarik dikoleksi. Pertumbuhan pendapatan non bunga BBCA mencapai 12% di kuartal I-2017.

Keputusan The Federal Reserve mempertahankan Fed funds rate bulan lalu menunjukkan AS masih optimistis ekonominya tumbuh. Tapi, di kuartal I-2017 ekonomi AS hanya tumbuh 0,7%, setelah tumbuh 2,1% di kuartal IV-2016. Hal ini berpotensi mempengaruhi pergerakan harga saham perbankan di bursa saham.

Tapi, menurut Riska, pengaruh pergerakan suku bunga The Fed ke sektor perbankan tidak akan signifikan. Nilai tukar rupiah masih stabil dan tetap ada aliran dana ke pasar saham.